Rupa gunung yang berbentuk Strato (kerucut) ini memungkinkan kita untuk melihat komposisi
megah nan padu : samudera awan stratokumulus yang bertumpuk dengan sirus, areal
pegunungan Papandayan, puncak Ciremai yang muncul diantara riak-riak awan yang
menggulung, riuh-kerlip jingga lampu perkotaan Garut, laut Samudera Hindia yang
membiru lugas, dan hamparan hutan tropis khas Nusantara. Namun perlu dicatat,
kesemuanya itu mesti dibayar dengan perjalanan yang menguras tenaga:tanjakan
dan tanjakan di sepanjang rute.
Berkenalan dengan gunung ini.
Berketinggian 2821 meter, gunung
yang dikelilingi oleh 5 kecamatan (Cilawu, Ciledug, Banjarwangi, Bayongbong,
Cikajang) ini menawarkan dua alternatif jalur, yakni Cilawu dan Ciledug. Cilawu
lebih bersahabat bagi pendaki pemula dibanding Ciledug, meski waktu tempuhnya
lebih lama. Namun bila menghendaki elevasi yang lebih menantang, silahkan coba
jalur Ciledug. Dalam kesempatan kali ini, penulis dan tim memilih jalur yang
lebih populer diantara kawan pendaki, yakni jalur Cilawu dengan titik nol
stasiun pemancar TV.
![]() |
Pos Pendaftaran pertama, terletak di tengah area kebun teh |
![]() |
Tempat parkir dan shelter peristirahatan |
Di tengah rute berbatu menuju
stasiun pemancar, kita mesti mengisi buku pendaftaran dan membayar retribusi
sebesar Rp3.000 tiap orang. Tidak ada tawar-menawar karena ini merupakan harga
resmi dari pengelola setempat. Kemudian pada titik nol pendakian, kita juga
mesti mengisi “daftar hadir” dan kembali mengeluarkan rupiah, namun dalam
jumlah yang tak ditentukan, sesuai kesepakatan kelompok. Di area stasiun
pemancar, fasilitas yang diberikan pihak pengelola cukup memberi kenyamanan.
Terdapat shelter untuk beristirahat, parkir sepeda motor, warung makan, toilet
serta mushola. Ternyata di area ini penulis jumpai pula mobil bak terbuka yang
mengangkut rombongan pendaki entah sampai mana. Alternatif ini layak dicoba
jika kawan-kawan membawa rombongan yang cukup banyak.
Trek dengan elevasi serupa Manglayang.
Delapan menit pertama perjalanan
masih dihiasi perkebunan teh hijau segar di kanan dan kiri, serasa tamasya
bersama keluarga di kebun teh. Tidak lama, akan berganti dengan semak-semak
rendah untuk kemudian mulai memasuki hutan hujan tropis khas Jawa Barat yang
basah. Namun beruntung sangat, pendakian edisi kali ini kami tidak bertemu
hujan kecuali ketika beristirahat setelah lelah berkendara. Kita tak boleh
patah semangat, meski sejak menit awal “pertandingan” hadangan elevasi telah
menghampiri. Sedikit catatan, memulai perjalanan ketika hari belum sore sangat
dianjurkan, agar pemandangan kebun teh yang segar di mata tidak terhalangi
kabut yang mulai turun mengendap-endap. Penulis dan tim mulai berjalan pukul
setengah enam, sehingga pandangan kami sedikit
terhalangi.
![]() |
Salah satu trek (foto diambil saat perjalanan turun) |
Terdapat tujuh pos berupa area
datar yang cukup luas untuk beristirahat dengan puncak bayangan yang berada di
Pos 6. Tenggat waktu setiap pos kurang lebih satu jam, kecuali antara pos 4 ke
5 membutuhkan waktu setengah jam saja. Namun perhitungan itu kembali pada
kondisi fisik dan motivasi masing-masing. Kondisi medan yang hanya berisi
tanjakan berhias akar pepohonan memaksa kita menggunakan dua buah tangan untuk
menarik tubuh kita menuju undakan-undakan trek yang lebih tinggi. Semakin kita
mampu mengatur napas dan memanajemen fisik untuk tetap bugar, akan semakin
cepat kita menuju puncak strato Cikuray.
![]() |
Trek penguras tenaga (foto diambil saat perjalanan turun) |
Satu hal yang perlu diperhatikan
ialah manajemen air. Sumber air terakhir adalah ketika perjalanan baru
berlangsung satu seperempat jam dari titik nol, atau setengah jam sebelum pos
2. Sehingga kita harus mempersiapkan bagaimana agar air tetap cukup untuk
perjalanan ke puncak, memasak ketika bertenda, dan perjalanan turun paling
tidak hingga bertemu sumber air kembali. Satu hal ialah sampah. Hampir di
sepanjang jalan penulis temui sampah para pendaki. Hal ini mengganggu
harmonisasi warna coklat tanah dan hijau dedaunan sekitar. Mari menjadi pendaki
yang cerdas dan peduli, dengan membawa turun sampah masing-masing.
Bila kawan-kawan beruntung dan
berada pada kondisi ideal, seluruh drama pendakian akan selesai dalam lima jam.
Tapi itu tidak terjadi pada kami. Penulis dan tim mencatatkan waktu total
tempuh tujuh jam setengah (pukul 17.30 hingga 01.00 dini hari). Hal ini
dikarenakan faktor lelah setelah lima jam mengendarai sepeda motor
Bandung-Garut. Selama perjalanan pun, mayoritas anggota tim curi-curi tidur
barang 10 menit di setiap sesi istirahat.
Manajemen perjalanan perlu banyak pertimbangan.
Penulis memilih strategi untuk
langsung berjalan marathon menuju puncak adalah bukan tanpa alasan. Meski sejak
perjalanan menuju pos 4 sudah banyak tenda kawan pendaki yang didirikan, kami
tetap melenggang santai sambil menyapa kawan-kawan pendaki yang asyik
menyeruput kopi. Pertimbangannya, bahwa ketika kita telah mencapai puncak, tak
ada lagi beban untuk bangun pukul dua atau tiga pagi dan meneruskan perjalanan summit attack untuk mengejar sunrise
yang menjadi dambaan para pendaki. Kebugaran penulis dan tim saat itu saat
buruk karena perjalanan sebelumnya. Maka dengan ini, kita hanya perlu membuka
tenda dan abakadabra! Sunrise telah ada di depan mata. Sebagai gantinya, tangan
kami harus bergetar kedinginan memasang tenda dan memasak air pada pukul satu
dini hari. Inilah sensasi berkemah di puncak gunung.
Puncak Cikuray telah sesak oleh puluh-ratusan pasang mata.
Suasana puncak Cikuray telah
padat dengan tenda dengan orang-orang terlelap di dalamnya ketika kami sampai.
Namun ada hal lain yang mencuri perhatian kami:kolase kerlip lampu perkotaan
Garut yang damai di mata. Beberapa teman tim terhipnotis sejenak menyaksi
indahnya suguhan ini, untuk kemudian mendirikan tenda dan memasak air untuk
penghangat badan. Beberapa kawan pendaki yang masih terjaga meneriaki kami agar
bergabung, namun apa daya rasa kantuk telah memenjarakan kami ke dalam tenda. Penulis
dan tim pun hanya mendapat jatah tidur sekitar satu setengah jam sebelum
bersiap menikmati sajian summit sunrise.
Detik-detik pertunjukan.
Pukul setengah enam pagi puluhan
kawan pendaki telah menyesaki puncak, berdiri sporadis di pinggir area puncak
dan bersiap mengambil foto. Berbagai atribut telah disiapkan:kertas putih
dengan aneka tulisan, bendera merah putih, ataupun bendera komunitas
masing-masing. Dan momen dimana semua mata terpana pun datang. Sang Surya mulai
memantulkan kombinasi warna yang mengagumkan:jingga, kuning, dengan langit biru
tua yang masih mendominasi langit, dan berangsur-angsur menggelincirkan dirinya
menyusuri ekliptika. Beruntung rasanya saat itu tak turun hujan dan langit
begitu bening cerah. Penulis terkagum sejadi-jadinya─harus kembali ke sini suatu
hari nanti, mengajak orang-orang tersayang untuk menikmatinya bersama.
![]() |
Perfect Sunrise |
![]() |
Penulis dan lanskap awan |
Pertunjukan matahari telah
berakhir, penulis dan tim pun bersiap mengisi energi dan berkemas, sementara
awan kumulus dan stratus lambat laun berarak-arak di sekitar puncak berbarengan
dengan mulai terlihatnya rangkaian pegunungan Jawa Barat yang mengelilingi
Garut.
![]() |
Penulis dan tim |
![]() |
Penulis dan tim (2) |
![]() |
Sudut lain harmoni pemandangan |
![]() |
Berkemas sebelum berpulang |
Perjalanan pulang terasa ringan sebab penulis
dan tim hanya menemui turunan dan tanah datar tempat rehat, sebagai kompensasi
atas apa yang dihadapi semalaman. Empat hingga lima jam perjalanan turun diisi
dengan bercanda dan berfoto. Sesaat sebelum sampai di pemancar, beberapa
pendaki menyempatkan diri membeli cemilan ringan dan minuman dingin di warung
kecil yang berada di tengah-tengah kebun teh─satu fase perpisahan dengan
trek dan harmoni lanskap Cikuray yang memberi kesan mendalam bagi penulis.
![]() |
Bersantai |