Pages

Tampilkan postingan dengan label Foranzasiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Foranzasiana. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Januari 2014

Satu Titik Sadar di Gunung Manglayang

Sebelum mengobat rindu ke kampung halaman dan menikmati euforia penutup tahun, bolehlah sejenak berteriak melepas beban sembari menyaksi lanskap Sumedang dan Bandung dari ketinggian. Kehendak hati pergi ke gunung yang mudah untuk didaki, namun ternyata medan yang dilalui berkata sebaliknya.

lanskap Sumedang dari Puncak Bayangan Manglayang

Meski kata orang Manglayang via Jalur Baru Beureum memberi janji pemandangan menakjubkan, kami harus membayarnya dengan trek menantang ibarat pertandingan final Piala Dunia: ketegangan ada sepanjang pertandingan. Tak pernah ada celah untuk menikmati jalan mendatar apalagi menurun seperti Gunung Burangrang tempo hari.

Manglayang berada di kawasan sekitar Jatinangor, Sumedang yang berdiri pula di dekatnya gunung-gunung tidak tinggi yang terhiasi pemukiman penduduk. Terdapat beberapa jalur yang boleh dipilih untuk mencapai puncak, diantaranya Jalur Baru Beureum, Jalur Ujung Berung, dan Jalur Buper Batu KudaRombongan saya memilih Jalur Baru Beureum karena menurut riwayat, jalur ini banyak menjanjikan “ramuan pengusir lelah” di sepanjang perjalanan.

Berangkat dari pusat kota Bandung, kami langsung bergerak menuju Jatinangor, melewati dua universitas besar dan bumi perkemahan Kiarapayung. Biasanya, para pejalan akan berhenti di sekitar Unpad dan naik ojek dengan biaya Rp20.000 untuk sampai di depan Gapura Ciloa. Dari gapura ini, kita mesti berjalan selama setengah jam hingga menemukan warung yang menjadi titik nol pendakian. Menariknya, tidak ada biaya retribusi bila ingin mendaki Manglayang. Secara implisit, kita hanya perlu beramah ramah mengucap permisi dengan penduduk lokal perjalanan sebagai “ucapan terima kasih”.

gapura Ciloa

titik nol pendakian


Titik nol dimulai dengan persimpangan: arah kanan akan menuju bumi perkemahan, sedang kiri adalah arah yang mesti kita tuju untuk kemudian bertemu dengan satu-satunya sumber air di trek pendakian. Silahkan menikmati, namun akan lebih berkesan jika Anda bermain air selepas menggenggam puncak Manglayang.

Setelah mengambil alur jalan arah kanan, tenang saja, Anda hanya akan menempuh jalur satu dan pasti:PASTI TANJAKAN. Berbeda dengan Burangrang ataupun Papandayan yang berlimpah bonus, trek menurun di Manglayang hanyalah mitos. Saya jadi teringat dengan trek Gunung Salak yang memiliki medan serupa.

satu dan pasti: PASTI TANJAKAN

Tak hanya tanjakan yang menjadi tantangan, namun kondisi medan yang licin dan berhias duri juga menjadi pokok pikiran selama pendakian. Maka dari itu saya sarankan untuk memakai lengan panjang selama perjalanan. Beberapa teman yang baru pertama merasakan serunya pendakian cukup mengalami kewalahan. Mereka ini begitu sering merangkak seru karena sulitnya medan dan elevasi. Namun tenang saja, kualitas trek berbanding terbalik dengan durasi. Bila Anda menemukan plang IPDN seperti gambar di bawah ini, maka Anda hanya butuh 15 menit lagi langkah kaki untuk mencapai puncak bayangan, yang malah banyak menjadi destinasi akhir para pendaki.
plang dari IPDN

Mengapa menjadi favorit, alasan utamanya tentu ialah pemandangan 180 derajat lanskap Sumedang dan Bandung dari ketinggian lumayan. Lampu kerlap-kerlip sejenak menghipnotis dan melucuti kelelahan kami akibat pertarungan dengan medan. Terlihat di kejauhan Gunung Geulis (dalam bahasa Sunda berarti “cantik”) yang tampak hitam legam seorang diri dikelilingi gerlap penerangan rumah penduduk di kaki-kakinya. Di tempat ini kami mendirikan tenda. Perlu menjadi catatan bahwa, puncak bayangan hanya menyediakan lahan untuk dua tenda ukuran sedang. Selebihnya berupa jalan memanjang yang kanan kirinya jurang dalam (saya belum dan tak berniat mengecek kecuramannya).

lights in the memorable night


Puncak Bayangan yang memanjang sempit

sesempitan dalam tenda

Atau terdapat alternatif lain, Anda perlu melewati jalur ke kanan sejenak untuk menemukan sebidang sempit tanah lapang. Namun lebih baik ketimbang berkemah di puncak bayangan yang setelah saya ketahui  bagian pinggir tempat kami bertenda tanahnya sudah retak dan nyaris longsor. Tinggal 'menunggu waktu'. Beruntung saat malam, angin yang bertiup begitu kencang saat dini hari pukul dua yang membuat kami semua terbangun dan berdoa agar angin tak sampai menerbangkan tenda.

Kontras. Semalam saat kami datang, angin bergerak tenang merangkaki bukit dan menyusuri lembah sehingga kami bisa sembahyang di luar tenda dan membuat hindangan khas dunia daki:mie plus sarden dengan taburan kacang atom yang menggugah selera. Namun semuanya menjadi berbeda ketika gelegar angin menyerang. Ketika dini hari,bebunyian angin sepeerti air terjun membangunkan kami dan membuat jantung berdegub kencang. Beruntung bayangan yang tidak-tidak dalam pikiran kami tidak pernah terbukti. Kami menjumpai titik sadar di benak kami bahwa kami ini kecil.

Bila gelegar angin surut ketika matahari datang, kami sempat merencanakan untuk berjalan ke titik tertinggi. Namun rencana ini urung dilakukan. Meski telah cerah, angin tetap saja bergemuruh, ditambah beberapa teman yang mulai tak enak badan. Saran saya, jika mau lakukan perjalanan Manglayang ini pada musim cerah. Adalah keputusan terbaik untuk segera berkemas dan turun. Rute pulang ditempuh dalam waktu yang sama yakni 1 jam 40 menit. Seharusnya lebih cepat, namun karena medan yang licin, apaboleh buat kami tak bisa berlari.

meluncur di trek menurun selamanya

sungai mungil di awal jalur

Seperti semula saya katakan, di awal jalur pendakian terdapat sungai mungil yang airnya deras mengalir. Inilah saat yang tepat untuk menikmati sembari membilas pakaian, badan dan alas kaki. Beruntung pula, pagi itu Warung Bu Ipah sudah buka. Karena saat kami tiba kemarin, Warung Bu Ipah masih tutup. Tak ada manusia di area titik nol ini.
Bu Ipah dan penulis

Sekadar info, Bu Ipah ini sudah 14 tahun berjualan di titik nol pendakian Manglayang. Sekali waktu anak beliau menjemput dengan sepeda motor untuk membawa beliau ke rumah ataupun berbelanja dagangan. Berbagai camilan dan minuman hangat dijual dengan harga yang wajar, sama seperti warung pinggir jalan pada umumnya. Sebenarnya ada pula warung di seberang Warung Bu Ipah, namun hanya buka Sabtu-Minggu. Di samping Warung Bu Ipah, ada mushola yang cukup besar, selain sembahyang cukup untuk menaruh carrier, berganti pakaian, bahkan merebahkan diri bersama-sama.
tempat istirahat&sembahyang yang cukup luas

melepas lelah di warung Bu Ipah

way to home

Perjalanan pulang harus diawali dengan berjalan pula, masih dengan waktu tempuh 30 menit untuk bersua dengan tukang ojek yang duduk manis menunggu di depan gapura Ciloa. Untuk perjalanan turun ini, silahkan Anda tawar hingga 15 ribu untuk rute gapura Ciloa-halte Damri. Sebagai penutup, bolehlah menjelajahi Jatinangor, bersantap siang di sana, merasai betul silir damai angin Sumedang sebelum berpulang.



Selasa, 29 Oktober 2013

Mt.Papandayan:Trek Gampang, Jalur Gamang



Akan tetap saya sisihkan sesingkat apa pun waktu untuk menyapa riang dedaunan di sekian ribu di atas permukaan laut sana. Dan kali ini adalah momen untuk salah satu gunung di lingkar Garut “Switzerland van Java” : Papandayan. Satu gunung api berketinggian 2.665 mdpl berjarak 70 km dari kota Bandung dengan panorama yang beraneka. 

Kenapa beraneka, karena Anda akan menemukan banyak jenis kenampakan alam di sini. Mulai dari bukit kapur, letupan-letupan kawah belerang, sungai dengan air terjun mungil, aliran air belerang yang tak boleh Anda minum, tebing curam di samping jalur mendaki Anda, bukit coklat-hijau tua di kejauhan, hingga padang Edelweiss di ketinggian 2.400 mdpl yang akan mendamaikan suasana hati.

jalanan 10 menit pertama

Gunung dengan padang Edelweiss terluas di Indonesia ini memang cocok bagi mereka yang baru mengenal dunia daki-mendaki. Treknya yang relatif mudah dibanding gunung lain dengan lebar jalur yang cukup dan elevasi yang landai. Bahkan hingga ketinggian 2.200 mdpl, masih ada orang yang mampu menempuhnya dengan sepeda motor.

area belerang, memakai masker akan cukup menolong

trek landai
Start dari lapangan parkir Papandayan, Anda hanya perlu waktu dua jam untuk mencapai tanah lapang perkemahan Pondok Saladah. Tercatat pada hari itu, sebanyak 600 orang mendaftar untuk menjejaki gunung ini. Pondok Saladah ini berupa sebidang tanah yang sangat luas, yang sepertinya telah disiapkan Sang Maha Esa untuk para pendaki. Sampai di Pondok Seladah, sebaiknya langsung mendirikan tenda agar dapat beristirahat segera.
Pondok Saladah
Untuk mencapai puncak, terdapat dua jalur yang ditawarkan, yakni Spider dan Death Valley. Jalur Spider akan langsung mengantarkan Anda ke puncak Gunung Papandayan, sedang dengan jalur Death Valley/Lembah Mati, Anda akan diajak mampir ke Tegal Alun terlebih dahulu, sebuah padang Edelweiss yang telah disebutkan di atas.

lanskap Hutan Mati suasana pagi

Banyak pendaki memilih jalur Lembah Mati karena penasaran dengan Padang Edelweiss Tegal Alun. Sekitar satu setengah jam perjalanan dari Pondok Seladah. Di jalur ini, Anda akan disuguhi pemandangan Hutan Mati, rangkaian pepohonan tanpa daun dengan tanah putih yang menyuguhkan kesan mistis ala pegunungan.
Kegamangan akan menerpa ketika Anda melewati Hutan Mati saat hari masih gelap. Hampir semua arah mata angin bisa ditempuh, sementara hanya ada satu yang benar, yakni jalur yang dihiasi ikat kecil tali rafi di dahan pepohonan mati. Saran saya, sertakan orang yang sudah pernah mendaki Papandayan dalam perjalanan, atau tempuhlah jalur ini saat hari telah cerah.

Garlic Bread dan Nasi Obok, hanya di Papandayan

TAKE NOTHING BUT PICTURE
Edelweiss yang indah telah menanti sabar di Tegal Alun. Banyak pendaki yang berfoto ria di sini, memasak, ataupun sekedar beristirahat sejenak.  Setelah saya jelajahi, memang benar bahwa padang ini begitu luas, cocok untuk bersantai menenangkan diri. Beberapa pendaki memutuskan untuk tidak ke puncak. Beberapa karena pemandangan di puncak yang tak terlalu menggoda, karena kabut yang membatasi jarak pandang, ataupun karena petunjuk jalur yang kurang jelas (kegamangan kedua). Saya bersama rombongan termasuk di dalamnya.

Memilih segera menuruni tanjakan Mamang yang lumayan menantang, meniti Hutan Mati, membereskan tenda yang kami tinggal di Pondok Seladah, dan mencuci muka di aliran sungai berair terjun mungil. Anda tak akan menyesal bila “piknik gunung” di Papandayan ini.

sungai dengan air jernih khas pegunungan, air terjun mungil tidak tampak dalam gambar

AKSES dan KALKULASI RUPIAH

Asumsi awal: perjalanan dilakukan berombongan 17 hidung. Untuk perjalanan dengan kisaran orang yang lebih sedikit ataupun banyak, Anda dapat memperkirakannya.

[14.000 tiap hidung] bus kelas pendaki Bandung-Garut (Terminal Cicaheum-Guntur), bila berangkat dari Jakarta (Kampung Rambutan), kena libas 36.000.

[100.000 untuk 17 hidung] sewa angkot Terminal Guntur-Gerbang Cisurupan, jika per orang, kena tebas 15.000 tiap hidung.

 [350.000 untuk 17 hidung] pick-up Gerbang Cisurupan-Parkir Papandayan, jika per orang, kena gilas 20.000 orang tiap hidung.

[2.000+iuran sukarela] tiket masuk pendakian.

Bagaimana saudara-saudara, ekonomis bukan?










Sabtu, 20 Juli 2013

Sua Dua Saudara


Sementara sibuk dengan apa-apa yang harus dipikirkan dan diselesaikan di Kampus Insan Cendekia Serpong selama berstatus siswa , dalam pikiran tak begitu sering terlintas bahwa kita memiliki saudara:Mizumouza.


Tersebutlah kisah, Foranza dan Mizumouza merupakan dua saudara yang bersekolah di Insan Cendekia, sebuah sekolah yang terlahir dari rahim BPPT yang kemudian dijadikan anak angkat-dibiayai oleh Kementerian Agama RI. Terpisahkan oleh Laut Jawa lebih dari 1900 km jauhnya, serta menjalani duka dan tinggi (lebih banyak duka) menjadi anak kesayangan lembaga negara.

Menilik track record sejenak, telah beberapa kali Foranza-Mizumouza bersua dan berjabat tangan. Dua tahun silam, Mizumouza berinisiasi mengajak Foranza berbuka bersama di Cilandak Town Square—“angkat topi” untuk Mizumouza. Juga tahun 2012 lalu, dua saudara ini bertatap muka di Pondok Indah Mall untuk agenda yang sama. Hingga pada 20 Juli 2013 kemarin, keduanya berkesempatan untuk berkunjung ke Kampus Insan Cendekia Serpong untuk sebuah acara yang diikuti lebih banyak orang dengan status spesial yang kini telah tersemat:alumni.

Marilah kita beranjak menuju kronologi.

Semenjak pagi pukul delapan pun, telah ada anak Foranza yang datang. Menuju tengah hari, mulai banyak teman-teman Foranza-Mizumouza yang hadir, sementara lainnya tengah berjuang untuk sesegera mungkin bergabung. Pada masa penantian ini, pembunuhan waktu dilakukan dengan berbincang tanpa arah, karena memang salah satu tujuan acara ini adalah menjalin keakraban.

Acara mulai “jelas” selepas ashar ketika teman-teman yang berwenang menggiring kami menuju GSG. Dengan host acara Ika dan Nida Khansa, kami mengikuti acara dengan riang. Luthfi sebagai ketua angkatan Mizumouza terlebih dahulu memberikan sambutan, diikuti Fikri yang berdiri di hadapan kami yang berubah posisi menjadi duduk melingkar. Hingga dilanjutkan dengan prosesi perkenalan dalam banyak kelompok kecil. Pada bagian ini, setidaknya perbendaharaan saya untuk nama anak-anak Mizumouza menjadi bertambah cukup signifikan.

Tidak bisa lebih lama menunggu waktu berbuka karena perut mulai (sangat-sangat) lapar #sneakers, panitia mengalihkan perhatian dari lapar menuju tawa dengan permainan tiga kata ajaib yang kini tengah digandrungi:Indonesia Pintar! Menurut saya, hebat benar permainan ini. Hanya dengan “Ya-Tidak-Bisa Jadi”, kita semua terbawa suasana seru-menegangkan dan antusiasme tinggi.

Petarung pertama dari sudut kanan adalah Fikri dan Luthfi di sudut kiri. Pada sesi pertama ini, Luthfi yang bertugas menebak kata panik tak berkutik pada satu kata makanan cepat saji: Indomie. Selanjutnya adalah Firstio dan Naima (#ciyee). Firstio berhasil meski dengan cara yang tak cukup wajar yakni dengan menebak apa huruf pertama, huruf kedua, dan selanjutnya:Ketoprak.Pasangan kontestan ketiga dan  keempat menuai nasib yang sama dengan duo ketua angkatan yang bermain pada sesi pertama. Catatan saya pada permainan ini bahwa, Indonesia Pintar hanya bisa ditaklukkan dengan dua jalan:kerja keras-latihan bertubi-tubi-persiapan mental #tssah atau sebuah keberuntungan dengan sedikit pertanyaan dan langsung 
mendapat jawaban (namun ini sangat kecil kemungkinan).

 
Setelah penonton lelah tertawa dan pemain lelah frustasi, permainan dihentikan dan penyegeraan buka puasa bersama dilakukan.

Berkumpul kembalilah Foranza-Mizumouza di Gedung Serba Guna untuk melanjutkan santap buka. Masih dengan posisi melingkar kami menghabiskan kudapan yang ada, sembari mendengarkan beberapa pihak yang berwenang berbicara. Ialah Hizky dan Rizki yang sedikit berpidato perihal hubungan persaudaraan ini. Menjadi wacana tentang bagaimana bila IAIC Serpong dan Gorontalo merger menjadi satu ikatan. Semoga menjadi nyata suatu hari nanti.

Berlanjut pada sesi terakhir yang lebih serius, saudara kami Jaisyi menyebutkan sebuah hadits tentang persaudaraan sesama mu'min, kemudian memimpin doa untuk teman-teman Foranza-Mizumouza yang pada saat ini masih belum mendapat kepastian masa depan perkuliahan. Bersamaan dengan ini, saya dan beberapa teman mendapat pesan singkat dari seorang teman yang kini masih berjuang, yang sebagian kutipannya adalah sebagai berikut:”….kami memohon doa untuk kesuksesan kami biar diberi yang terbaik dan cepat dapat kuliah dan bisa kembali kebarisan foranza yang satu aamiin..:-)”

Sebagai paragraf akhir sekian ratus kata dalam tulisan kali ini, tersampaikan dalam hati dan lisan bahwa semoga persaudaraan Foranza dan Mizumouza tetap terjalin erat  hingga batas waktu yang tidak bisa kita tentukan, untuk banyak alasan kebaikan. Dan teruntuk sahabat yang masih harus berjuang—hingga tak bisa hadir pada pertemuan ternantikan ini—di daratan jauh sana, kami dengungkan doa untuk keterwujudan harapan kalian. Sekian dan terima kasih, Foranza-Mizumouza! :)



Senin, 03 Juni 2013

Sayonara, Foranza..


Kita tak pernah benar-benar berpisah, hanya pergi sejenak  untuk kemudian bertatap muka kembali (Itch)


“Tak kan bercerai, walau kita kan terurai dalam alun suara..We are Forza Esperanza Sillnova!” terdengar merdu mengharu di bagian belakang Gedung Serba Guna pada Sabtu, 25 Mei 2013 seusai kami menikmati karnaval perpisahan Foranza, persembahan junior kami Astonic DR. Sudah pasti hanya partisi lirik ini saja yang tercetak tebal bergaris bawah, mengingat ketika belum habis bulan Mei pun, Foranza akan terurai selamanya, dari satu titik─Kampus Insan Cendekia─ke empat penjuru mata angin entah seberapa jauh jaraknya.

Pertemuan manis Juli tiga tahun silam mau tak mau menuntut perpisahan pada akhir Mei tahun ini. Maka tidaklah salah bila Foranza berusaha menjalani serangkaian momen insidental dengan sepenuh hati sebagai buah tangan kenangan manis yang dibawa menuju fase hidup selanjutnya. Diantaranya adalah Petuah Pak Away, BINGO, dan persembahan terakhir Foranza untuk Civitas Insan Cendekia, F-16

Petuah Pak Away

Izinkan saya menduga. Yakni ketika bayi-bayi penyu yang baru saja menetas hendak dilepas ke lautan oleh induknya, ada saat dimana induk penyu berbisik─dengan bahasa yang tak kita pahami─pada bayinya, “Nak, di lautan akan banyak kau temui ombak besar , karang, dan ikan-ikan yang mengancam jiwamu. Kuatkan dirimu, Nak.Jaga dirimu baik-baik.”
Hal ini terjadi pula ketika kami hendak hengkang dari Insan Cendekia. Seorang guru agama mengadakan pertemuan dengan kami, menyampaikan nasihat, kisah-kisah lama yang dapat memberi pelajaran berharga, yang akhirnya ditutup dengan harapan beliau agar kami semua─Foranza Silnnova─benar-benar mampu menjadi Insan Cendekia yang membawa kebaikan bagi Bangsa Indonesia.

Ada tiga kali tatap muka. Pertama membahas aliran sesat, yang menceritakan bahwa beberapa tahun lalu NII pernah meracuni salah seorang siswi Insan Cendekia. Hari kedua yang berlokasi di “padang rumput” samping masjid membahas masalah balada cinta anak muda, yang disinyalir telah dengan pesat menjangkiti hati-hati Foranza─yang semakin hari semakin menuju kematangan (atau kesiapan?).ahaha, sedikit banyak pastilah banyak yang tersinggung #eh.

Sedang sesi terakhir adalah perihal peta hidup yang kami buat di tahun kedua. Beberapa diminta saling menceritakan peta hidup teman sebelah saat itu. Sesi ini dihelat di perpustakaan. Suasana riuh saat Pak Away menunjukkan kami seonggok─puluhan undangan pernikahan alumni Insan Cendekia, baik seorang alumni dengan orang lain sepeti Kak Urfa misalnya, maupun alumni yang jua berjodoh dengan alumni. Haha, masih menjadi misteri bagi setiap hati anak-anak Foranza:dengan siapa, dan siapa yang pertama kali.

BINGO

Berkepanjangan Bombastonic Carnival Given for Foranza, sebuah tradisi acara perpisahan bagi senior persembahan adik kelas paling kecil di Insan Cendekia. Meriah. Fantastis. Megah. Penuh Kejutan.Kerja keras di Moment 13.44 kami terbayarkan.

Begitu karnaval. Saat pertama kali masuk kami langsung disuguhi beberapa boot photo dengan berbagai tema, diberi mainan kecil dan tanda masuk karnaval. Terdapat pula permainan-permainan yang bisa dicoba satu per satu. Sebelum acara dimulai, Foranza hanya disibukkan dengan berfoto dengan kostum-kostum keren yang dikenakan. Memang, acara seperti ini terlihat khas dengan adanya pesta kostum dengan tema yang telah ditentukan oleh junior. Saya sendiri memakai kostum red carpet(tuksedo), meski agak gagal namun banyak juga yang mengajak foto :D.

Acara diisi dengan performance musik, dance, dan pantomim. Kami cukup terhibur, dan mata kami cukup tersegarkan dengan dekorasi ice carving setinggi 50-an cm yang terpajang di depan panggung. Ada juga penganugerahan award untuk Foranza untuk beberapa kategori:Terpayphone, Tersaung, Terombang-ambing, Termamen, dst. 




Perhelatan ini berlangsung hingga pukul 12 siang, untuk kemudian dilanjutkan dengan Garden Party di belakang GSG. Beberapa teman ada yang telah berganti kostum, namun masih banyak pula yang memakai kostum acaranya. Sesi Garden Party ini terkesan lebih santai. Kami bercakap-cakap sambil mendengarkan permainan musik beberapa teman, FlashMob (pernah dengar?). Acara dipungkasi dengan penerbangan balon helium dan pemberian bantal kuning lucu sebagai kenang-kenangan. Ke Bekasi  ngga boleh panik, Makasih Astonic!!!

F-16

Setelah BINGO selesai, Foranza langsung bergegas untuk mempersiapkan acara persembahan terakhir dari Foranza untuk Civitas Insan Cendekia: F-16. Sebuah acara sederhana berisi penampilan drama panjang mahakeren yang ditampilkan dengan segala kreativitas otak kanan Foranza, yang ditutup dengan kejutan bagi Insan Cendekia: Sky Lentern atau  Lentera Terbang. 

Seperti Crexpo, kami hanya butuh waktu singkat untuk mengkonsep acara ini. Ya, sejak 1 minggu sebelum acara kami merencanakan segalanya dari nol:bagaimana persembahan terakhir ini akan begitu mengena di hati para junior.

Drama yang dipertunjukkan adalah sebuah perjalanan panjang, dinamika kehidupan Foranza selama 3 tahun bertualang di Insan Cendekia. Tentu saja diawali dengan Pekan T’aruf Siswa diikuti dengan serangkaian momen-momen manis yang cukup menarik untuk diceritakan─I-Fun, Homestay, Sonlis, I-Care, LDK, dll─dan diakhiri dengan Graduation Day. Penonton bersorak, yang kemudian diikuti dengan sorakan dalam hati kami yang buncah atas keberhasilan drama ini.

Malam yang ditemani bulan purnama bulat terang sempurna mencapai klimaks ketika langit gelap di atas kami bertaburan cahaya lentera yang bersama-sama kami terbangkan. Setiap satu lentera diterbangkan oleh 9 orang yang anggotanya berbaur antara kami, Magnivic, dan Astonic. Lentera ini menggunakan konsep udara yang memuai hasil pembakaran tak sempurna ramuan bahan bakar buatan tangan kami. 

Sebelum menerbangkannya ke langit, kami menggumamkan doa dan segala cita kami di masa depan. Dan suasana menjadi begitu romantis ketika lentera-lentera itu terbang. Kami semua terpesonakan, menjerit dalam hati─betapa Allah telah membuat malam minggu terakhir ini begitu indah. Terlebih kami bisa berkumpul dengan orang-orang tersayang yang memberi kami seribu warna di Insan Cendekia. Terima kasih Foranza! Kejutanmu memang tak ada habisnya!

Hari Berpulang

Mei belum juga berakhir, namun tampaknya Foranza telah mencapai peraduan. Adalah Rabu, 29 Mei 2013, 116 merpati dilepasliarkan ke semesta luas, membawa pesan-pesan kebaikan pada dunia.  Ya, kami diwisuda, melepaskan status siswa, mengenakan status alumni yang terbebankan menjaga nama baik Insan Cendekia.

Mengenakan setelan jas hitam-abu yang elegan bagi laki-laki, dan kebaya krem anggun bagi teman saya yang perempuan, kami melangkah santai meniti karpet merah memasuki GSG─tempat kami pertama kali berkumpul tiga tahun silam. 

Kami menjalani prosesi wisuda dengan khidmat. Maju satu per satu menerima selongsong dan kalungan medali  dari para petinggi sekolah, lalu berjalan ke panggung dan berbaris pada podium yang telah disiapkan. Syahdu. Sedih bercampur bangga. Dengan ini kami harus rela meninggalkan Insan Cendekia, sekolah yang memberi kami segalanya.

Selepas acara, kami masih berhimpun di sana. Bermaaf-maafan dengan para guru, memohon keikhlasan para orang tua kedua kami ini, berterima kasih dan memohon restu agar kami mampu merengkuh kesuksesan di masa depan. Juga meminta maaf dan berpeluk erat antara kami yang telah menjalani  seribu hari berarti bersama-sama,yang akan terus terkenang:segala momen yang mewakili klausa perjuangan menuntut ilmu dan menenun erat benang-benang persahabatan.

Dan dengan ini, kami berpulang sejenak untuk kemudian bertegur, berjabat tangan, dan  berpeluk erat kembali di belahan bumi yang lain. Sampai jumpa kembali, Foranzaku :)

Senin, 13 Mei 2013

Selalu Ada Celah untuk Bepergian


Sekali saja ada instruksi kepala sekolah bahwa Foranza mendapat bingkisan hadiah hari libur, spontan pemikiran kami bercabang-cabang, membaca kemungkinan “target operasi jelajah” ceria kami menjelang terurainya kebersamaan ini pada penghujung Mei nanti.

Melihat hanya empat hari, beberapa yang mungkin bisa dilakukan adalah perjalanan kecil di sekitar kampus Insan Cendekia, atau sebuah acara nostalgia yang membawa kita pada pemutaran ulang  film dokumenter, yang ada padanya  kisah-kisah di dalam dan di luar kelas dua tahun silam. Ya, berkumpul bersama teman-teman sekelas semasa kelas satu SMA. Bukan apa-apa, tetapi kenangan saat pertama kali mendapat teman yang beragam karakter dari beragam daerah selalu meninggalkan jejak dalam pikiran.

1.      Visaga & Cafe Batavia
Sebuah tradisi kekeluargaan yang cukup unik tumbuh lestari di Insan Cendekia, yang lazim disebut TITAN (Tiga Angkatan). Adalah sebuah event yang dihelat setiap kelas satu SMA dari tiga generasi, berisi game-game atau performance  sesuai kreatifitas masing-masing kelas. Acara ini biasanya berada di akhir tahun pelajaran, sebagai salah satu bingkisan bekal untuk generasi yang sebentar lagi akan mohon diri dari Insan Cendekia.

Kebetulan, kelas yang pertama kali menggelar acara ini adalah kelas Visaga(Viva Satu Tiga), yakni pada hari Kamis, 9 Mei 2013 dengan nama Cafe Batavia. Sekitar pukul setengah delapan pagi, 70-an orang berbondong menuju Ruang Kelas Baru dengan kaos kelas terpakai di badan, dua kado berbungkus kertas koran terbawa di tangan, dan tentunya senyum merekah yang beriringan.
suka cita kakak-adik absen

Dari narasumber, diceritakan bahwa TITAN kelas mereka ini diisi dengan games, award, tukar kado, dan kejutan-kejutan kecil untuk tiga ketua kelas dari tiga generasi. “Kata gue titan mereka keren banget diliat dari dekornya yang total. Acaranya juga seru ada small rtagenya juga,”demikian penuturan seorang mantan siswa kelas X-3 yang sebentar lagi akan diwisuda, Minakhus Sania.
foto bersama
2.      Serbu Rumah Pak Rapiq!
Silaturrahmi ke rumah wali kelas juga menjadi ritual wajib tahunan bagi sebagian kelas di Insan Cendekia, salah satunya kelas X-4. Bagi saya, ini merupakan tradisi yang sangat positif. Selain menguatkan keakraban diantara kami, silaturrahmi ini juga dapat menjalin hubungan yang dekat-hangat antara guru dan murid.Kamis, bertepatan dengan Café Batavia kelas X-3 kami berangkat menuju kawasan Gunung Sindur, Bogor dengan menggunakan taksi.

Menjadi catatan untuk silaturrahmi selanjutnya bahwa, kami harus mengkonfirmasi dengan jelas niat kedatangan sebelum kami melaju ke Gunung Sindur. Andai saja kami tak berpapasan dengan Pak Rapiq di tengah jalan, jadilah kami bersilaturrahmi di rumah tak berpenghuni karena saat itu beliau hendak bepergian bersama famili. Sehingga kami memohon maaf pada Pak Rapiq atas penghancuran rencana jalan-jalan keluarga beliau.

Karena sifatnya yang impromtu , maka Pak Rapiq pun tak mempersiapkan apa pun untuk kami. Sehingga agenda pertama adalah berbelanja! Teman saya duo U, Unik dan Ucit diajak Pak Rapiq ke pasar terdekat untuk membeli sayuran segar. Kami yang menunggu di rumah beliau sambil bermain congklak. Dan setelah Pak Rapiq kembali, teman-teman perempuan mulai memasak untuk kami semua, sebagai kodrat seorang wanita #tssah.
serunya main congklak

Pak Rapiq di masa muda
Kami bercengkerama, mendengar informasi-informasi penting dari Pak Rapiq tentang Insan Cendekia yang sebelumnya tak kami ketahui. Kami dekat. Seperti kawan sepermainan saja dengan beliau. Dan pada momen epilog, kami menmpersembahkan replika kertas(papercraft) mobil merah milik Pak Rapiq. Buncah dan senyum tersimpul dengan jelas terlukis di wajah Pak Rapiq. Teman perempuan pun tak menyangka bahwa yang kami berikan adalah replika mobil yang menjadi kebanggaan Pak Rapiq itu.
Pak Rapiq dan mobilnya yang "menciut"
“Hari yang menyenangkan. Dikunjungi anak X4. Berbagi cerita dan cita-cita. Mulai dari kasus yang galau sampai prestasi kemilau. Sungguh, mereka anak-anak IC yang membanggakan. Semoga Allah melancarkan dan mengabulkan cita-cita kalian. Semoga hari ini berkah dan menyenangkan. Amin.” Demikian dituturkan oleh Pak Rapiq pada account FB beliau.
x-4 bersama Pak Rapiq&keluarga

Kenangan itu telah terpanggil kembali. Tawa teman-teman dan senyum guru kami datang sebagai bukti.

3.      European Movie Day at Erasmus Huis
Terasa menarik di telinga ketika saya mendengar bahwa Festival Film Eropa sedang dihelat di beberapa kota, salah satunya di Jakarta. Pemutaran 10 hari tanpa henti dari siang hingga malam di kantor-kantor kedutaan negara Eropa(Goethe Haus, Erasmus Huis, Instituto Italiano, IFI Salemba, SAE Jakarta, dan Kunstkring). Berbagai genre film disajikan mulai dari children, documentary, hingga thriller yang berasal dari puluhan negara Eropa. Kami sendiri memilih Erasmus Haus karena kapasitasnya yang paling banyak yakni 320, khawatir tak kebagian seat.

Berangkat dari Insan Cendekia, butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk mencapai Kawasan Rasuna Said di Kuningan, tempat berdiri banyak kantor kedutaan:Swiss, Belanda, India, Polandia, dst. Meski film baru mulai tengah, kami telah sampai di lokasi 1,5 jam sebelumnya. Dan tragisnya, satpam yang cukup ganas tak mempersilakan kami masuk dan harus menunggu di luar area Kedutaan Belanda. Mall kecil dekat Univ.Bakrie menjadi pilihan “barak pengungsian”.
pajangan berbagai arsitektur Belanda

perpustakaan Erasmus Huis

Foranza at Erasmus Huis

Total ada tiga film yang kami saksikan. Sammy 2, yang dengan menyesalnya saya menyadari bahwa itu adalah film anak-anak mirip Nemo, berasal dari Belgia. Setidaknya membuat saya sedikit terhibur dengan humornya. Film kedua, The King Jari Litmanen, film dokumenter-biografi seorang pemain legendaris Finlandia yang pernah bermain di Ajax, Barcelona, dan Liverpool. Di tengah pemutaran film ini, seorang Foranza datang, Hanifah, untuk bergabung bersama kami.
auditorium tempat nonton

Klimaksnya adalah The Fourth State, thriller Jerman yang membicarakan konspirasi politik dengan kedok terorisme yang melibatkan seorang jurnalis Jerman. Film yang seru dan menantang adrenalin dengan bertaburkan adegan yang membuat jantung berdetak lebih cepat.

Bersyukur benar, ketika 4 hari liburan singkat ini tak berakhir di dipan kecil asrama yang sebentar lagi kami tinggalkan. Karena Allah, juga karena Foranza yang gemar betul jalan-jalan:).