Pages

Tampilkan postingan dengan label Aku&Ganesha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku&Ganesha. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juni 2014

Cikuray dan Pesona Tiga Ratus Enam Puluh Derajat

Rotasikan raga sebesar tiga ratus enam puluh derajat di puncak Gunung Cikuray, maka akan kita resapi selaksa pesona di setiap sudutnya. 

            Rupa gunung yang berbentuk Strato (kerucut)  ini memungkinkan kita untuk melihat komposisi megah nan padu : samudera awan stratokumulus yang bertumpuk dengan sirus, areal pegunungan Papandayan, puncak Ciremai yang muncul diantara riak-riak awan yang menggulung, riuh-kerlip jingga lampu perkotaan Garut, laut Samudera Hindia yang membiru lugas, dan hamparan hutan tropis khas Nusantara. Namun perlu dicatat, kesemuanya itu mesti dibayar dengan perjalanan yang menguras tenaga:tanjakan dan tanjakan di sepanjang rute.

Berkenalan dengan gunung ini.
Berketinggian 2821 meter, gunung yang dikelilingi oleh 5 kecamatan (Cilawu, Ciledug, Banjarwangi, Bayongbong, Cikajang) ini menawarkan dua alternatif jalur, yakni Cilawu dan Ciledug. Cilawu lebih bersahabat bagi pendaki pemula dibanding Ciledug, meski waktu tempuhnya lebih lama. Namun bila menghendaki elevasi yang lebih menantang, silahkan coba jalur Ciledug. Dalam kesempatan kali ini, penulis dan tim memilih jalur yang lebih populer diantara kawan pendaki, yakni jalur Cilawu dengan titik nol stasiun pemancar TV.
Akses menuju titik nol pendakian dapat dicapai dengan dua cara, yakni dengan transportasi umum dan kendaraan pribadi. Bila dengan transportasi umum, setelah sampai di Terminal Guntur kita dapat menumpang angkot 06 berwarna putih-biru muda menuju Cilawu, Patrol dengan ongkos sekitar 8 ribu rupiah. Sampai di sini, biasanya beberapa tukang ojek akan menghampiri kawan-kawan pendaki. Pandai-pandailah menawar ongkos. Rentang yang mungkin didapatkan antara 30-40 ribu rupiah. Cukup logis karena medan yang dilalui sangat menantang. Menjadi satu jam lebih mimpi buruk bagi penulis dan tim yang pada kesempatan kali ini mengendarai sepeda motor pribadi, hingga beberapa kali terjadi insiden kecil bumbu pedas perjalanan.
Pos Pendaftaran pertama, terletak di tengah area kebun teh
Tempat parkir dan shelter peristirahatan
Di tengah rute berbatu menuju stasiun pemancar, kita mesti mengisi buku pendaftaran dan membayar retribusi sebesar Rp3.000 tiap orang. Tidak ada tawar-menawar karena ini merupakan harga resmi dari pengelola setempat. Kemudian pada titik nol pendakian, kita juga mesti mengisi “daftar hadir” dan kembali mengeluarkan rupiah, namun dalam jumlah yang tak ditentukan, sesuai kesepakatan kelompok. Di area stasiun pemancar, fasilitas yang diberikan pihak pengelola cukup memberi kenyamanan. Terdapat shelter untuk beristirahat, parkir sepeda motor, warung makan, toilet serta mushola. Ternyata di area ini penulis jumpai pula mobil bak terbuka yang mengangkut rombongan pendaki entah sampai mana. Alternatif ini layak dicoba jika kawan-kawan membawa rombongan yang cukup banyak.

Trek dengan elevasi serupa Manglayang.
Delapan menit pertama perjalanan masih dihiasi perkebunan teh hijau segar di kanan dan kiri, serasa tamasya bersama keluarga di kebun teh. Tidak lama, akan berganti dengan semak-semak rendah untuk kemudian mulai memasuki hutan hujan tropis khas Jawa Barat yang basah. Namun beruntung sangat, pendakian edisi kali ini kami tidak bertemu hujan kecuali ketika beristirahat setelah lelah berkendara. Kita tak boleh patah semangat, meski sejak menit awal “pertandingan” hadangan elevasi telah menghampiri. Sedikit catatan, memulai perjalanan ketika hari belum sore sangat dianjurkan, agar pemandangan kebun teh yang segar di mata tidak terhalangi kabut yang mulai turun mengendap-endap. Penulis dan tim mulai berjalan pukul setengah enam, sehingga pandangan kami sedikit  terhalangi.
Salah satu trek (foto diambil saat perjalanan turun)
Terdapat tujuh pos berupa area datar yang cukup luas untuk beristirahat dengan puncak bayangan yang berada di Pos 6. Tenggat waktu setiap pos kurang lebih satu jam, kecuali antara pos 4 ke 5 membutuhkan waktu setengah jam saja. Namun perhitungan itu kembali pada kondisi fisik dan motivasi masing-masing. Kondisi medan yang hanya berisi tanjakan berhias akar pepohonan memaksa kita menggunakan dua buah tangan untuk menarik tubuh kita menuju undakan-undakan trek yang lebih tinggi. Semakin kita mampu mengatur napas dan memanajemen fisik untuk tetap bugar, akan semakin cepat kita menuju puncak strato Cikuray.
Trek penguras tenaga (foto diambil saat perjalanan turun)
Satu hal yang perlu diperhatikan ialah manajemen air. Sumber air terakhir adalah ketika perjalanan baru berlangsung satu seperempat jam dari titik nol, atau setengah jam sebelum pos 2. Sehingga kita harus mempersiapkan bagaimana agar air tetap cukup untuk perjalanan ke puncak, memasak ketika bertenda, dan perjalanan turun paling tidak hingga bertemu sumber air kembali. Satu hal ialah sampah. Hampir di sepanjang jalan penulis temui sampah para pendaki. Hal ini mengganggu harmonisasi warna coklat tanah dan hijau dedaunan sekitar. Mari menjadi pendaki yang cerdas dan peduli, dengan membawa turun sampah masing-masing.
Bila kawan-kawan beruntung dan berada pada kondisi ideal, seluruh drama pendakian akan selesai dalam lima jam. Tapi itu tidak terjadi pada kami. Penulis dan tim mencatatkan waktu total tempuh tujuh jam setengah (pukul 17.30 hingga 01.00 dini hari). Hal ini dikarenakan faktor lelah setelah lima jam mengendarai sepeda motor Bandung-Garut. Selama perjalanan pun, mayoritas anggota tim curi-curi tidur barang 10 menit di setiap sesi istirahat.

Manajemen perjalanan perlu banyak pertimbangan.
Penulis memilih strategi untuk langsung berjalan marathon menuju puncak adalah bukan tanpa alasan. Meski sejak perjalanan menuju pos 4 sudah banyak tenda kawan pendaki yang didirikan, kami tetap melenggang santai sambil menyapa kawan-kawan pendaki yang asyik menyeruput kopi. Pertimbangannya, bahwa ketika kita telah mencapai puncak, tak ada lagi beban untuk bangun pukul dua atau tiga pagi dan meneruskan perjalanan summit attack untuk mengejar sunrise yang menjadi dambaan para pendaki. Kebugaran penulis dan tim saat itu saat buruk karena perjalanan sebelumnya. Maka dengan ini, kita hanya perlu membuka tenda dan abakadabra! Sunrise telah ada di depan mata. Sebagai gantinya, tangan kami harus bergetar kedinginan memasang tenda dan memasak air pada pukul satu dini hari. Inilah sensasi berkemah di puncak gunung.

Puncak Cikuray telah sesak oleh puluh-ratusan pasang mata.
Suasana puncak Cikuray telah padat dengan tenda dengan orang-orang terlelap di dalamnya ketika kami sampai. Namun ada hal lain yang mencuri perhatian kami:kolase kerlip lampu perkotaan Garut yang damai di mata. Beberapa teman tim terhipnotis sejenak menyaksi indahnya suguhan ini, untuk kemudian mendirikan tenda dan memasak air untuk penghangat badan. Beberapa kawan pendaki yang masih terjaga meneriaki kami agar bergabung, namun apa daya rasa kantuk telah memenjarakan kami ke dalam tenda. Penulis dan tim pun hanya mendapat jatah tidur sekitar satu setengah jam sebelum bersiap menikmati sajian summit sunrise.

Detik-detik pertunjukan.
Pukul setengah enam pagi puluhan kawan pendaki telah menyesaki puncak, berdiri sporadis di pinggir area puncak dan bersiap mengambil foto. Berbagai atribut telah disiapkan:kertas putih dengan aneka tulisan, bendera merah putih, ataupun bendera komunitas masing-masing. Dan momen dimana semua mata terpana pun datang. Sang Surya mulai memantulkan kombinasi warna yang mengagumkan:jingga, kuning, dengan langit biru tua yang masih mendominasi langit, dan berangsur-angsur menggelincirkan dirinya menyusuri ekliptika. Beruntung rasanya saat itu tak turun hujan dan langit begitu bening cerah. Penulis terkagum sejadi-jadinya─harus kembali ke sini suatu hari nanti, mengajak orang-orang tersayang untuk menikmatinya bersama.
Perfect Sunrise
Penulis dan lanskap awan
Pertunjukan matahari telah berakhir, penulis dan tim pun bersiap mengisi energi dan berkemas, sementara awan kumulus dan stratus lambat laun berarak-arak di sekitar puncak berbarengan dengan mulai terlihatnya rangkaian pegunungan Jawa Barat yang mengelilingi Garut.
Penulis dan tim

Penulis dan tim (2)

Sudut lain harmoni pemandangan

Berkemas sebelum berpulang
 Perjalanan pulang terasa ringan sebab penulis dan tim hanya menemui turunan dan tanah datar tempat rehat, sebagai kompensasi atas apa yang dihadapi semalaman. Empat hingga lima jam perjalanan turun diisi dengan bercanda dan berfoto. Sesaat sebelum sampai di pemancar, beberapa pendaki menyempatkan diri membeli cemilan ringan dan minuman dingin di warung kecil yang berada di tengah-tengah kebun teh─satu fase perpisahan dengan trek dan harmoni lanskap Cikuray yang memberi kesan mendalam bagi penulis.
Bersantai

Bersantai sesaat sebelum kembali ke titik nol

Kamis, 12 Desember 2013

Burangrang Short Hiking, Sempurna untuk Pemula

Rute yang jelas.Tanjakan yang bervariasi.Jarak tempuh yang relatif singkat. Kondisi udara yang bersahabat. Memang benar, Burangrang sangat cocok untuk pendakian pertama, untuk pendakian yang singkat.

Diriwayatkan dari orang lokal bahwa Bandung sebenarnya adalah dasar dari danau yang terbentuk dari letusan Gunung Sunda yang dikelilingi rangkaian gunung dan bukit. Burangrang menjadi tepi mangkuk tertinggi di antara tinggian yang mengelilingi kota sejuta kembang ini, dengan ketinggian 2050 mdpl.   

# Akses

Berlokasi di Cisarua Kab. Bandung, gunung ini dapat ditempuh dengan mudah dari pusat kota Bandung dengan transportasi sejuta umat. Rute ditempuh dengan menumpang supir angkot biru jurusan Cicaheum-Ledeng atau warna putih Kalapa-Ledeng dengan imbalan 3000 rupiah(dari Dago) menuju Terminal Ledeng, kemudian dilanjutkan angkot putih Ledeng-Parongpong cukup dengan 4000 rupiah Anda akan berhenti di terminal angkot Parongpong. Namun saya tak merekomendasikan untuk turun di terminal Parongpong karena dari terminal Parongpong jarak Gerbang Komando masih jauh. Anda butuh mencari kendaraan lagi.

Bila mau, cobalah bernegosiasi harga dengan supir angkot untuk membawa Anda hingga persimpangan beberapa ratus meter setelah Gerbang Komando :kanan menuju registrasi Gunung Burangrang dan kiri menuju Pondok Aa Gym. Sekadar berbagi, saya mendapat harga 8000 tiap orang untuk perjalanan Ledeng-Persimpangan.

Dari persimpangan ini kita mesti berjalan sekitar 10 menit untuk mencapai kantor registrasi pendakian. Jalan yang dilalui naik namun tidak menanjak tajam. Perlu diperhatikan, Gunung Burangrang merupakan area latihan gunung hutan Kopassus. Maka dari itu perizinan pendakian dilakukan pada seorang bapak tinggi-tegap-kekar-besar yang kemudian kami ketahui bernama Pak Tantan. Bolehlah saya bercurah hati, Pak Tantan sang prajurit baret merah ini orangnya “cair”, kami saja dipanggil “bro”.
Pengarahan dari Pak Tantan

#Perkenalan

Sambutan perdana tampak membahagiakan. Jalan yang cukup lebar dengan vegetasi pinus di kanan-kiri jalan. Jalur terlihat jelas sebelum beranjak menuju hutan yang sebenarnya. Terdapat tiga puncak bayangan dan satu puncak sejati di ketinggian 2050 mdpl. Kalau tak cermat memperhatikan, sepanjang perjalanan Anda mungkin tak akan menemukan plang kira-kira 10x30 cm bertuliskan “PUNCAK” dan “SATGANA” yang tertancap pada pohon. 
plang puncak bayangan
Saya sendiri pun hanya menjumpai satu plang dari tiga puncak bayangan, terlepas dari berapa sebenarnya plang yang dipasang. Oleh karena ada banyak puncak bayangan, jalan tidak selamanya menanjak. Akan didapati bonus beberapa kali jalan menurun saat perjalanan. Mari bersorak kegirangan.Oh ya, dari kejauhan juga akan tampak Situ Lembang yang duduk manis di kejauhan. Sebuah danau buatan jaman kumpeni yang kini juga digunakan latihan perang oleh pasukan elit Kopassus.
sambutan pertama
lanskap Situ Lembang
# Kondisi Medan

Rute Burangrang termasuk  bervariasi. Jalan yang lengang, setapak normal, jurang di kiri-kanan, lereng yang benar-benar mencapai lembah di sisi kanan jalan, ataupun jalan dengan vegetasi yang lebat. Bicara soal tanjakan, Burangrang boleh masuk dalam kategori “grade A”. Tanjakan yang mesti dilalui untuk mencapai puncak cukup banyak namun tak berlebihan. Bila masih newbie, ada baiknya membawa tali webbing atau tambang kecil. Terlebih bila Anda seorang perempuan (tidak bermaksud meremehkan). Elevasi tanjakan sekitar 60 derajat berbatu maupun tanah lempung yang licin. Saat saya tak sengaja menendang batu, batu itu menggelinding hingga lima meter lebih. Namun bila sudah berpengalaman, tak membawa tali pun tak apa.
jalan setapak

salah satu tanjakan sedang
Butuh waktu 2-3 jam untuk mencapai puncak tertinggi Burangrang. Saya butuh waktu dua seperempat jam. Itupun sudah termasuk beberapa kali istirahat karena rekan saya baru pertama kalinya mendaki. Mungkin Anda dapat mencapainya kurang dari dua jam bila berjalan cepat konstan dengan sedikit break. Telah dibuktikan, tidak minum sama sekali dari gerbang awal hingga puncak tertinggi 2050 mdpl pun memungkinkan. Puncak Burangrang bukanlah padang yang luas, hanya sekitar 5x5 meter dengan tugu triangulasi setinggi 2,5 meter berwarna merah putih dengan saka merah putih di atasnya. Sayang sekali banyak pendaki yang meninggalkan sampah di sini. Melanggar semboyan pendaki: leave nothing but footprints.
seorang teman berpose pada penanda puncak

"mendaki" tugu triangulasi
# Catatan

Karena sedang musim hujan, medan kembali “perawan” seperti belum terjamah. Oleh karena itu harus berhati-hati. Ketika turun, cobalah untuk membuka kaki agak lebar agar tak mudah terpeleset. Ambillah sisi kiri-kanan jalan setapak bila samping bukan jurang. Hal ini terbukti membantu mengurangi intensitas terpeleset, bahkan menghindari sama sekali.

mendaki itu menyenangkan
Perjalanan turun tak ada hambatan kecuali tetes air hujan yang melicinkan medan. Berhati-hati  dan tidak buru-buru adalah pilihan terbaik. Tercatat, waktu yang kami butuhkan 2 jam kurang 15 menit. Tidak buruk bagi teman saya yang baru pertama kalinya berkenalan dengan medan . One day hiking di Gunung Burangrang menjadi pilihan yang sempurna untuk Anda mencoba-coba. Silakan catat, Anda hanya perlu membawa barang-barang ini:ransel berisi air 1, 5 liter, makanan (roti atau nasi), jas hujan, P3K, tali webbing, trash bag, kemudian sepatu/sandal gunung, jaket, dan tentunya tekad baja jiwa bahagia. Selamat mencoba!



Senin, 26 Agustus 2013

OSKM ITB 2013

"Selamat Menempuh Hidup Baru"
Mendengar atau membaca klausa bercetak tebal di atas, rasa-rasanya kita hampir pasti menghubungkannya dengan suka cita dua mempelai yang baru saja mengucap janji suci. Namun marilah membuka mata lebih lebar, bahwa sebagian besar golongan putih abu-abu yang telah membeli mahal gelar “Maha” untuk mendampingi gelar “Siswa” mereka juga pantas kita beri ucapan selamat berikut munajat.

Ini menjadi spesial sebab, pada fase inilah seorang penuntut ilmu mengalami metamorfosa yang cukup jelas terlihat pada berbagai sudut pandang. Salah satu yang kentara ialah perihal visi hidup dan tanggung jawab, tentang apa pencapaian yang ingin diraih dan bagaimana road map yang mesti dilewati untuk merengkuh visi tersebut di masa depan.

Maka perlulah diadakannya orientasi studi bagi mahasiswa baru, yang pada intinya berupaya membukakan mata para calon pemimpin masa depan ini agar mampu memetakan hidupnya dan mampu merencanakan secara benar, sejalan dengan gerakan pemajuan bangsa Indonesia. Berhubung nasib melemparkan saya ke Kota Kembang, maka saya hendak bercerita mengenai OSKM (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa) ITB 2013. Ketika seorang teman bertanya, apakah masih ada hal berbau pembodohan? Maka saya dengan intonasi yang jelas menjawab:Tidak.

Pada 2013 ini, OSKM ITB 2013 membawakan tema Kearifan Lokal dengan tagline #untukIndonesia .Dibuka dengan Opening Ceremony pada 20 Agustus dan berakhir pada 24 Agustus 2013 dengan Closing Ceremony yang spektakuler, atau lebih mahsyur dikatakan kece.

17 Agustus 2013

Meski OSKM baru dibuka pada 20 Agustus, tetapi pada hari tersebut panitia telah mendampingi kami mengikuti serangkaian acara. Cukup kaget kiranya ketika panitia OSKM memberi instruksi untuk datang pada pukul 5.50 pagi. Pada pagi inilah pertama kalinya saya bersua dengan kakak-kakak panitia, dengan “suasana” yang mengingatkan saya pada masa orientasi saat saya masuk SMA.

Pasukan baju hitam bertuliskan "Arga Pancaka" yang bersedekap dan berucap dengan nada tinggi─digelari sebagai Keamanan, baju biru muda "Varsha Abhinaya" yang memberi senyum dan ucapan semangat¬bagian Medik, dan kakak-kakak yang ceria bahagia tiada pernah surut─kami menyebutnya kakak Taplok.

Sebelum upacara, kami mendapat “welcome drink” dari para senior. Menyaksikan performance lagu-lagu kampus dan belajar meneriakkan Salam Ganesha: Bakti kami untukmu, Tuhan, Bangsa, dan Almamater..Merdeka!Merdeka!

Setelah upacara bendera usai, kami bersiap menuju Sasana Budaya Ganesha untuk acara Gladi Bersih Sidang Terbuka yang akan diadakan esok hari. Cukup singkat, hingga akhirnya bertemu dengan kakak-kakak taplok:duduk-duduk, berkenalan, dan beramah tamah dengan mereka ini. Oh ya, perkenalkan nama mereka Kak Fima, Kak Hanief, dan Kak El.

19 Agustus 2013

Tiga puluh menit lebih mundur dari kemarin lusa. Pukul 6.20 saya bersama 3.600 mahasiswa baru lainnya berkumpul di depan gedung perpustakaan untuk dimobilisasi menuju Sasana Budaya Ganesha, melakoni Sidang Terbuka: pengukuhan saya sebagai mahasiswa baru 2013 ITB.

Selain pengukuhan sebagai mahasiswa baru, terdapat pula penganugerahaan Ganesha Prize dan penghargaan pada mahasiswa berprestasi. Ingin rasanya bisa duduk di kursi VIP seperti para senior ini di kemudian hari. Sebagai penawar bosan, para hadirin disuguhi penampilan yang menawan dari Paduan Suara Mahasiswa ITB dan tim orkestra ITB. Terlebih, lagu instrumental yang dibawakan cukup bisa memanggil memori kami yang setidaknya pernah menjadi kanak-kanak:Harvest Moon, Shincan, dst.

Ketika para mahasiswa S2, S3, dan mahasiswa berprestasi membubarkan diri, kami masih harus duduk mendengar bapak-bapak yang berwenang menyampaikan materi pengenalan kampus ITB. Cukup lama, namun informatif. Dan tak membuat ngantuk karena penyampaian yang jenaka dari pembicara.

20 Agustus 2013

Semakin hari semakin longgar saja, kegiatan hari ini secara umum dimulai pukul 08.00. Lebih beruntung lagi sebab fakultas saya mendapat jadwal siang hari selepas makan siang. Beberapa teman pun memutuskan untuk bermain futsal gratis di samping Masjid Salman ITB. 
 
Agenda hari ini adalah pengenalan fakultas oleh para dekan dan perwakilan program studi. Untuk fakultas saya, terdiri dari prodi Geologi, Geodesi, Oseanografi, dan Meteorologi. Senang rasanya ketika melihat teman-teman yang bergitu antusias. Pada intinya, empat prodi tersebut sama-sama akan menjanjikan masa depan yang baik.

Sore hari selepas Ashar, ITB 2013 berkumpul di Sasana Olahraga Ganesha untuk mengikuti Opening Ceremony OSKM 2013. Presiden Keluarga Mahasiswa ITB, Nyoman Anjani, memberikan sambutan singkat dengan diksi-diksi apik, membius ribuan mahasiswa baru yang duduk menyimak. Saya yakin, begitu banyak orang yang kagum dengan Kak Nyoman yangbanyak orang bilangrupawan ini.

Kampus Ganesha ini adalah tempat bagi mereka yang menuntut ilmu hingga ke langit dan tetap turun ke bumi untuk memakmurkan rakyatnya.” (Nyoman Anjani, Presiden KM ITB)

Seorang mahasiswi Teknik Mesin yang dengan ikhlas membaktikan dirinya berbagi dengan masyarakat daerah pelosok tanah air, ikut merasakan bagaimana getir hidup yang jauh dari rasa serba nyaman-ainstan dan riuh metropolitan. Beginilah seharusnya mahasiswa, mampu memberi efek positif yang nyata bagi masyarakat. Saya berdoa, agar sedikit banyak saya bisa mengikuti jejak kakak alumni SMAN 3 Bandung ini.

Tidak ketinggalan, sekitar 48 Himpunan Mahasiswa dari seluruh program studi di ITB turut menyambut kami para junior, memberikan salam-salam terbaiknya. Bagi saya pribadi, yel-yel paling unik datang dari mahasiswa matematika dengan gerakannya yang sangat tidak biasa.

21 Agustus 2013

Satu hari pasca pembukaan, kami orang baru ITB langsung diberi training/materi yang begitu berkesan, berbeda jauh dari training-training yang pernah saya lakoni sebelumnya. Namanya ialah SSDK (Stratedi Sukses di Kampus). Berisi petuah dan tips-tips menarik agar kami menjadi mahasiswa yang memiliki kemantapan diri:akademik, sosial, dan personal. Untuk bagian ini, saya sangat mengapresiasi para trainer yeng berasal dari kakak-kakak mahasiswa angkatan 2011 oke punya :).

Sore hari adalah jadwal pembekalan. Flat teman saya, Hans dan Irvan yang cukup nyaman untuk tempat berdiskusi menjadi lokasi pilihan. Pola pikir K3 dijelaskan dengan singkat dan jelas oleh Kak Hanief seorang diri, karena Kak Fima sedang sakit dan Kak Elfina sedang melakukan persiapan untuk mengikuti konferensi kepemudaan di Dubai (dua jempol besar untuk Kak El). K3 merupakan kepanjangan dari Kritis, Kreatif, dan Konstruktif. Turut pula diajarkan kepada kami Tepuk Apresiasi. Perhatian kakak-kakak ini tidak berhenti, yakni berpesan pada kami agar mengkonfirmasi jika telah sampai rumah. Beberapa dari kami bahkan diantar hingga depan tempat kos, memastikan keamanan perjalanan pulang kami di malam hari. Terima kasih, kakak taplok! :)

22 Agustus 2013

Tidak cukup satu hari training dilakukan, hari ini pun SSDK dilanjutkan dengan submateri yang berbeda. Saya kembali mujur. Ya, mendapatkan jadwal setelah jam makan siang di gedung yang sama.

Selain Kak Luthfie dan Kak Fahmi yang kemarin memberi materi, kali ini kami kedatangan tiga pembicara baru dari Lembaga Tahap Persiapan Bersama yang juga masih berstatus mahasiswa senior. Pokok bahasan hari ini adalah tentang TPB itu sendiri dan pengenalan gedung-gedung di ITB.

Ternyata, begitu banyak keistimewaan arsitektur yang berada di Kampus Ganesha ini. Tak heran karena pembangunan gedung di ITB dirancang oleh arsitek dari Belanda yang bernama Henri Maclaine Pont dan sebagian kecil darinya adalah arsitek Jepang. Misalnya dengan dibangunnya empat laboratorium kembar, Masjid Salman yang tak ada tiang penyangga di dalamnya meski kapasitasnya besar, sebuah areal yang merupakan pusat gaung dari seluruh Kampus ITB, dan musholla bundar yang dibuat oleh arsitek Jepang. Alasan mengapa bundar, adalah karena arsitek tersebut non muslim sehingga tak tahu arah kiblat sehingga ia buat saja dalam bentuk lingkaran. Satu lagi tambahan, mungkin kita tak kan merasa bahwa kita telah mendaki 10 meter jika kita berjalan dari gerbang depan menuju gerbang belakang Kampus Ganesha ITB.

23 Agustus 2013

Bila kemarin ITB 2013 banyak berkutat dengan kegiatan dalam kelas, maka hari ini kami bergerak menuju Saraga dan Sabuga:sesi pemotretan #untukIndonesia , defile OHU, dan multiseminar.

Belum terik pun, kami telah bersemangat berbaris di Sasana Olahraga Ganesha melaksanakan tugas angkatan. Ya, membuat formasi barisan #untukIndonesia yang terdiri dari 3.620 mahasiswa baru. Kelompok saya sendiri mendapat bagian huruf O berwarna putih. Kebanyakan dari kami memakai kresek untuk mencipta warna putih, sebuah solusi nol rupiah yang praktis. Namun saya sendiri memakai baju koko putih. Anti Mainstream.

persmbahan #untukIndonesia dari ITB 2013
Selanjutnya adalah defile OHU(Open House Unit), yakni pengenalan sebanyak 80 unit kemahasiswaan yang terkelompokkan ke dalam 6 rumpun:agama, keilmuan, pendidikan, seni budaya, olahraga, dan media. Yak, dipilih-dipilih, mana unit yang ingin ditekuni.

Klimaks hari ini adalah multiseminar yang menakjubkan dengan moderator rupawan Maria Selena, Miss Indonesia 2010 alumni Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB. Pembicara pada seminar kali ini ialah Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan RI) yang mengupas permasalahan ekonomi Indonesia dibarengi dengan motivasi bagi mahasiswa baru. Selanjutnya adalah Wanadri-Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung yang tentu saja berbicara mengenai penjelajahan nusantara. Tri Mumpuni, seorang penerima penghargaaan Ashden Award 2012 sebagai pahlawan pembawa penerangan listrik di puluhan daerah terpencil. Lalu yang terakhir adalah Bro Saska dari RISET INDIE yang menginspirasi kami untuk memberi impact pada dunia. Inspiratif!

24 Agustus 2013

Akhirnya datang juga pada saya hari terakhir pelaksanaan OSKM ini. Hari dimana kelelahan saya mengikuti serangkaian kegiatan hingga pukul 8 malam akan usai dan siap untuk menjalani masa studi.

Pagi kami diawali dengan adanya mentoring keagamaan untuk masing-masing kepercayaan. Tidak seperti yang saya duga, metoring ini lebih membicarakan visi hidup kami para junior. Kami saling dengar pendapat, berinteraksi ringan dengan kakak pembina 2010. Kegiatan selanjutnya adalah pemberian materi secara singkat oleh kakak taplok. Yakni perihal cinta tanah air, kolaborasi, urgensi kemahasiswaan, dan kawan-kawan sejenisnya.

Tak hanya pemberian teori, namun kami juga diminta mempraktekkannya di lapangan secara langsung. Kelompok saya mendapat area Cihampelas, diberi tugas mewawancarai orang-orang sekitar. Pilihan jatuh pada abang-abang penjual jaket Garut yang telah mengadu nasib di kawasan wisata belanja Cihampelas selama bertahun-tahun. Kami berinteraksi sejenak mendengar keluh kesah dan harapan mereka pada pemerintah.

Menjadi cukup menegangkan ketika kembali ke Kampus Ganesha, kami ITB 2013 menjalani sesi evaluasi oleh massa kampus (para seniorita anggota himpunan jurusan dan unit kemahasiswaan yang tidak menjadi panitia OSKM). Kami diberikan pertanyaan baik secara teoritis ataupun aplikatif. Satu hal yang saya ingat betul, adalah ketika seorang senior Tenik Kimia menyuruh tiga orang yang merasa paling kuat maju ke depan dan melaksanakan “satu seri” (push up, sit up, back up, dkk). 

Salam Ganesha pasca evaluasi
Suasana menjadi ramai ketika kami tidak terima teman kami diperlakukan seperti itu. Namun pada akhirnya kakak kami itu menjelaskan, bahwa tindakan tiga orang yang langsung turun ke tanah dan push up itu salah. Ya, mereka belum mempunyai sikap kritis, menanyakan apa sebab ia diperintah seperti tersebut di atas. Dan kami pun memahami apa maksud kakak tersebut. Terima kasih, para massa kampus!

Paripurna Acara

Malam hari selepas salat Maghrib, kami digiring menuju Saraga untuk menghadiri Closing Ceremony. Lega bercampur bangga. Akhirnya saya berhasil menyelesaikan serangkaian melelahkan acara OSKM ini. Acara diawali dengan teatrika yang apik dari klub teater. Retorika dari Trihita Karana (para petinggi di antara jajaran panitia), Nyoman Anjani selaku Presiden KM ITB, dan Sang Rektor Profesor Akhmaloka yang sebenarnya tak diundang namun saat itu menyidak pelaksanaan OSKM ini.
a beautiful night sky
Ratusan balon terbang warna-warni dengan nyala lampu kecil di dalamnya menjadi persembahaan terakhir yang begitu romantis untuk kami para junior. Ribuan pasang mata terus saja mendongak ke atas mengiringi terbebasnya balon-balon itu ke angkasa entah.

 
video ulasan OSKM 2013 oleh Liga Film Mahasiswa ITB

Adek adek, semangat yah buat kuliahnya di ITB. Mungkin kalian ga akan denger lagi kata 'fokus dek' dari keamanan, kalian juga ga akan denger kata 'semangat, yang sakit jangan dipaksain ya' tapi kami semua taplok akan selalu ingat kalian bahkan ketika kalianudah melupakan kami dek. Maafin kakak ya kalo banyak salah ke kalian.”


Skg kalian udah resmi jadi Mahasiswa, jadilah Mahasiswa yang tau akan tanggung jawabnya. Pesen kakak terakhir, kami memang ga bisa memberi banyak dek ke kalian, tapi kami percaya kalian akan memberi banyak bagi bangsa ini, semangat, lakukan segala hal #untukindonesia tercinta ini.” (Muhammad Hanief, taplok kelompok 119 dalam sebuah layanan pesan singkatnya)