Pages

Tampilkan postingan dengan label Travel Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travel Story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juni 2014

Cikuray dan Pesona Tiga Ratus Enam Puluh Derajat

Rotasikan raga sebesar tiga ratus enam puluh derajat di puncak Gunung Cikuray, maka akan kita resapi selaksa pesona di setiap sudutnya. 

            Rupa gunung yang berbentuk Strato (kerucut)  ini memungkinkan kita untuk melihat komposisi megah nan padu : samudera awan stratokumulus yang bertumpuk dengan sirus, areal pegunungan Papandayan, puncak Ciremai yang muncul diantara riak-riak awan yang menggulung, riuh-kerlip jingga lampu perkotaan Garut, laut Samudera Hindia yang membiru lugas, dan hamparan hutan tropis khas Nusantara. Namun perlu dicatat, kesemuanya itu mesti dibayar dengan perjalanan yang menguras tenaga:tanjakan dan tanjakan di sepanjang rute.

Berkenalan dengan gunung ini.
Berketinggian 2821 meter, gunung yang dikelilingi oleh 5 kecamatan (Cilawu, Ciledug, Banjarwangi, Bayongbong, Cikajang) ini menawarkan dua alternatif jalur, yakni Cilawu dan Ciledug. Cilawu lebih bersahabat bagi pendaki pemula dibanding Ciledug, meski waktu tempuhnya lebih lama. Namun bila menghendaki elevasi yang lebih menantang, silahkan coba jalur Ciledug. Dalam kesempatan kali ini, penulis dan tim memilih jalur yang lebih populer diantara kawan pendaki, yakni jalur Cilawu dengan titik nol stasiun pemancar TV.
Akses menuju titik nol pendakian dapat dicapai dengan dua cara, yakni dengan transportasi umum dan kendaraan pribadi. Bila dengan transportasi umum, setelah sampai di Terminal Guntur kita dapat menumpang angkot 06 berwarna putih-biru muda menuju Cilawu, Patrol dengan ongkos sekitar 8 ribu rupiah. Sampai di sini, biasanya beberapa tukang ojek akan menghampiri kawan-kawan pendaki. Pandai-pandailah menawar ongkos. Rentang yang mungkin didapatkan antara 30-40 ribu rupiah. Cukup logis karena medan yang dilalui sangat menantang. Menjadi satu jam lebih mimpi buruk bagi penulis dan tim yang pada kesempatan kali ini mengendarai sepeda motor pribadi, hingga beberapa kali terjadi insiden kecil bumbu pedas perjalanan.
Pos Pendaftaran pertama, terletak di tengah area kebun teh
Tempat parkir dan shelter peristirahatan
Di tengah rute berbatu menuju stasiun pemancar, kita mesti mengisi buku pendaftaran dan membayar retribusi sebesar Rp3.000 tiap orang. Tidak ada tawar-menawar karena ini merupakan harga resmi dari pengelola setempat. Kemudian pada titik nol pendakian, kita juga mesti mengisi “daftar hadir” dan kembali mengeluarkan rupiah, namun dalam jumlah yang tak ditentukan, sesuai kesepakatan kelompok. Di area stasiun pemancar, fasilitas yang diberikan pihak pengelola cukup memberi kenyamanan. Terdapat shelter untuk beristirahat, parkir sepeda motor, warung makan, toilet serta mushola. Ternyata di area ini penulis jumpai pula mobil bak terbuka yang mengangkut rombongan pendaki entah sampai mana. Alternatif ini layak dicoba jika kawan-kawan membawa rombongan yang cukup banyak.

Trek dengan elevasi serupa Manglayang.
Delapan menit pertama perjalanan masih dihiasi perkebunan teh hijau segar di kanan dan kiri, serasa tamasya bersama keluarga di kebun teh. Tidak lama, akan berganti dengan semak-semak rendah untuk kemudian mulai memasuki hutan hujan tropis khas Jawa Barat yang basah. Namun beruntung sangat, pendakian edisi kali ini kami tidak bertemu hujan kecuali ketika beristirahat setelah lelah berkendara. Kita tak boleh patah semangat, meski sejak menit awal “pertandingan” hadangan elevasi telah menghampiri. Sedikit catatan, memulai perjalanan ketika hari belum sore sangat dianjurkan, agar pemandangan kebun teh yang segar di mata tidak terhalangi kabut yang mulai turun mengendap-endap. Penulis dan tim mulai berjalan pukul setengah enam, sehingga pandangan kami sedikit  terhalangi.
Salah satu trek (foto diambil saat perjalanan turun)
Terdapat tujuh pos berupa area datar yang cukup luas untuk beristirahat dengan puncak bayangan yang berada di Pos 6. Tenggat waktu setiap pos kurang lebih satu jam, kecuali antara pos 4 ke 5 membutuhkan waktu setengah jam saja. Namun perhitungan itu kembali pada kondisi fisik dan motivasi masing-masing. Kondisi medan yang hanya berisi tanjakan berhias akar pepohonan memaksa kita menggunakan dua buah tangan untuk menarik tubuh kita menuju undakan-undakan trek yang lebih tinggi. Semakin kita mampu mengatur napas dan memanajemen fisik untuk tetap bugar, akan semakin cepat kita menuju puncak strato Cikuray.
Trek penguras tenaga (foto diambil saat perjalanan turun)
Satu hal yang perlu diperhatikan ialah manajemen air. Sumber air terakhir adalah ketika perjalanan baru berlangsung satu seperempat jam dari titik nol, atau setengah jam sebelum pos 2. Sehingga kita harus mempersiapkan bagaimana agar air tetap cukup untuk perjalanan ke puncak, memasak ketika bertenda, dan perjalanan turun paling tidak hingga bertemu sumber air kembali. Satu hal ialah sampah. Hampir di sepanjang jalan penulis temui sampah para pendaki. Hal ini mengganggu harmonisasi warna coklat tanah dan hijau dedaunan sekitar. Mari menjadi pendaki yang cerdas dan peduli, dengan membawa turun sampah masing-masing.
Bila kawan-kawan beruntung dan berada pada kondisi ideal, seluruh drama pendakian akan selesai dalam lima jam. Tapi itu tidak terjadi pada kami. Penulis dan tim mencatatkan waktu total tempuh tujuh jam setengah (pukul 17.30 hingga 01.00 dini hari). Hal ini dikarenakan faktor lelah setelah lima jam mengendarai sepeda motor Bandung-Garut. Selama perjalanan pun, mayoritas anggota tim curi-curi tidur barang 10 menit di setiap sesi istirahat.

Manajemen perjalanan perlu banyak pertimbangan.
Penulis memilih strategi untuk langsung berjalan marathon menuju puncak adalah bukan tanpa alasan. Meski sejak perjalanan menuju pos 4 sudah banyak tenda kawan pendaki yang didirikan, kami tetap melenggang santai sambil menyapa kawan-kawan pendaki yang asyik menyeruput kopi. Pertimbangannya, bahwa ketika kita telah mencapai puncak, tak ada lagi beban untuk bangun pukul dua atau tiga pagi dan meneruskan perjalanan summit attack untuk mengejar sunrise yang menjadi dambaan para pendaki. Kebugaran penulis dan tim saat itu saat buruk karena perjalanan sebelumnya. Maka dengan ini, kita hanya perlu membuka tenda dan abakadabra! Sunrise telah ada di depan mata. Sebagai gantinya, tangan kami harus bergetar kedinginan memasang tenda dan memasak air pada pukul satu dini hari. Inilah sensasi berkemah di puncak gunung.

Puncak Cikuray telah sesak oleh puluh-ratusan pasang mata.
Suasana puncak Cikuray telah padat dengan tenda dengan orang-orang terlelap di dalamnya ketika kami sampai. Namun ada hal lain yang mencuri perhatian kami:kolase kerlip lampu perkotaan Garut yang damai di mata. Beberapa teman tim terhipnotis sejenak menyaksi indahnya suguhan ini, untuk kemudian mendirikan tenda dan memasak air untuk penghangat badan. Beberapa kawan pendaki yang masih terjaga meneriaki kami agar bergabung, namun apa daya rasa kantuk telah memenjarakan kami ke dalam tenda. Penulis dan tim pun hanya mendapat jatah tidur sekitar satu setengah jam sebelum bersiap menikmati sajian summit sunrise.

Detik-detik pertunjukan.
Pukul setengah enam pagi puluhan kawan pendaki telah menyesaki puncak, berdiri sporadis di pinggir area puncak dan bersiap mengambil foto. Berbagai atribut telah disiapkan:kertas putih dengan aneka tulisan, bendera merah putih, ataupun bendera komunitas masing-masing. Dan momen dimana semua mata terpana pun datang. Sang Surya mulai memantulkan kombinasi warna yang mengagumkan:jingga, kuning, dengan langit biru tua yang masih mendominasi langit, dan berangsur-angsur menggelincirkan dirinya menyusuri ekliptika. Beruntung rasanya saat itu tak turun hujan dan langit begitu bening cerah. Penulis terkagum sejadi-jadinya─harus kembali ke sini suatu hari nanti, mengajak orang-orang tersayang untuk menikmatinya bersama.
Perfect Sunrise
Penulis dan lanskap awan
Pertunjukan matahari telah berakhir, penulis dan tim pun bersiap mengisi energi dan berkemas, sementara awan kumulus dan stratus lambat laun berarak-arak di sekitar puncak berbarengan dengan mulai terlihatnya rangkaian pegunungan Jawa Barat yang mengelilingi Garut.
Penulis dan tim

Penulis dan tim (2)

Sudut lain harmoni pemandangan

Berkemas sebelum berpulang
 Perjalanan pulang terasa ringan sebab penulis dan tim hanya menemui turunan dan tanah datar tempat rehat, sebagai kompensasi atas apa yang dihadapi semalaman. Empat hingga lima jam perjalanan turun diisi dengan bercanda dan berfoto. Sesaat sebelum sampai di pemancar, beberapa pendaki menyempatkan diri membeli cemilan ringan dan minuman dingin di warung kecil yang berada di tengah-tengah kebun teh─satu fase perpisahan dengan trek dan harmoni lanskap Cikuray yang memberi kesan mendalam bagi penulis.
Bersantai

Bersantai sesaat sebelum kembali ke titik nol

Minggu, 05 Januari 2014

Satu Titik Sadar di Gunung Manglayang

Sebelum mengobat rindu ke kampung halaman dan menikmati euforia penutup tahun, bolehlah sejenak berteriak melepas beban sembari menyaksi lanskap Sumedang dan Bandung dari ketinggian. Kehendak hati pergi ke gunung yang mudah untuk didaki, namun ternyata medan yang dilalui berkata sebaliknya.

lanskap Sumedang dari Puncak Bayangan Manglayang

Meski kata orang Manglayang via Jalur Baru Beureum memberi janji pemandangan menakjubkan, kami harus membayarnya dengan trek menantang ibarat pertandingan final Piala Dunia: ketegangan ada sepanjang pertandingan. Tak pernah ada celah untuk menikmati jalan mendatar apalagi menurun seperti Gunung Burangrang tempo hari.

Manglayang berada di kawasan sekitar Jatinangor, Sumedang yang berdiri pula di dekatnya gunung-gunung tidak tinggi yang terhiasi pemukiman penduduk. Terdapat beberapa jalur yang boleh dipilih untuk mencapai puncak, diantaranya Jalur Baru Beureum, Jalur Ujung Berung, dan Jalur Buper Batu KudaRombongan saya memilih Jalur Baru Beureum karena menurut riwayat, jalur ini banyak menjanjikan “ramuan pengusir lelah” di sepanjang perjalanan.

Berangkat dari pusat kota Bandung, kami langsung bergerak menuju Jatinangor, melewati dua universitas besar dan bumi perkemahan Kiarapayung. Biasanya, para pejalan akan berhenti di sekitar Unpad dan naik ojek dengan biaya Rp20.000 untuk sampai di depan Gapura Ciloa. Dari gapura ini, kita mesti berjalan selama setengah jam hingga menemukan warung yang menjadi titik nol pendakian. Menariknya, tidak ada biaya retribusi bila ingin mendaki Manglayang. Secara implisit, kita hanya perlu beramah ramah mengucap permisi dengan penduduk lokal perjalanan sebagai “ucapan terima kasih”.

gapura Ciloa

titik nol pendakian


Titik nol dimulai dengan persimpangan: arah kanan akan menuju bumi perkemahan, sedang kiri adalah arah yang mesti kita tuju untuk kemudian bertemu dengan satu-satunya sumber air di trek pendakian. Silahkan menikmati, namun akan lebih berkesan jika Anda bermain air selepas menggenggam puncak Manglayang.

Setelah mengambil alur jalan arah kanan, tenang saja, Anda hanya akan menempuh jalur satu dan pasti:PASTI TANJAKAN. Berbeda dengan Burangrang ataupun Papandayan yang berlimpah bonus, trek menurun di Manglayang hanyalah mitos. Saya jadi teringat dengan trek Gunung Salak yang memiliki medan serupa.

satu dan pasti: PASTI TANJAKAN

Tak hanya tanjakan yang menjadi tantangan, namun kondisi medan yang licin dan berhias duri juga menjadi pokok pikiran selama pendakian. Maka dari itu saya sarankan untuk memakai lengan panjang selama perjalanan. Beberapa teman yang baru pertama merasakan serunya pendakian cukup mengalami kewalahan. Mereka ini begitu sering merangkak seru karena sulitnya medan dan elevasi. Namun tenang saja, kualitas trek berbanding terbalik dengan durasi. Bila Anda menemukan plang IPDN seperti gambar di bawah ini, maka Anda hanya butuh 15 menit lagi langkah kaki untuk mencapai puncak bayangan, yang malah banyak menjadi destinasi akhir para pendaki.
plang dari IPDN

Mengapa menjadi favorit, alasan utamanya tentu ialah pemandangan 180 derajat lanskap Sumedang dan Bandung dari ketinggian lumayan. Lampu kerlap-kerlip sejenak menghipnotis dan melucuti kelelahan kami akibat pertarungan dengan medan. Terlihat di kejauhan Gunung Geulis (dalam bahasa Sunda berarti “cantik”) yang tampak hitam legam seorang diri dikelilingi gerlap penerangan rumah penduduk di kaki-kakinya. Di tempat ini kami mendirikan tenda. Perlu menjadi catatan bahwa, puncak bayangan hanya menyediakan lahan untuk dua tenda ukuran sedang. Selebihnya berupa jalan memanjang yang kanan kirinya jurang dalam (saya belum dan tak berniat mengecek kecuramannya).

lights in the memorable night


Puncak Bayangan yang memanjang sempit

sesempitan dalam tenda

Atau terdapat alternatif lain, Anda perlu melewati jalur ke kanan sejenak untuk menemukan sebidang sempit tanah lapang. Namun lebih baik ketimbang berkemah di puncak bayangan yang setelah saya ketahui  bagian pinggir tempat kami bertenda tanahnya sudah retak dan nyaris longsor. Tinggal 'menunggu waktu'. Beruntung saat malam, angin yang bertiup begitu kencang saat dini hari pukul dua yang membuat kami semua terbangun dan berdoa agar angin tak sampai menerbangkan tenda.

Kontras. Semalam saat kami datang, angin bergerak tenang merangkaki bukit dan menyusuri lembah sehingga kami bisa sembahyang di luar tenda dan membuat hindangan khas dunia daki:mie plus sarden dengan taburan kacang atom yang menggugah selera. Namun semuanya menjadi berbeda ketika gelegar angin menyerang. Ketika dini hari,bebunyian angin sepeerti air terjun membangunkan kami dan membuat jantung berdegub kencang. Beruntung bayangan yang tidak-tidak dalam pikiran kami tidak pernah terbukti. Kami menjumpai titik sadar di benak kami bahwa kami ini kecil.

Bila gelegar angin surut ketika matahari datang, kami sempat merencanakan untuk berjalan ke titik tertinggi. Namun rencana ini urung dilakukan. Meski telah cerah, angin tetap saja bergemuruh, ditambah beberapa teman yang mulai tak enak badan. Saran saya, jika mau lakukan perjalanan Manglayang ini pada musim cerah. Adalah keputusan terbaik untuk segera berkemas dan turun. Rute pulang ditempuh dalam waktu yang sama yakni 1 jam 40 menit. Seharusnya lebih cepat, namun karena medan yang licin, apaboleh buat kami tak bisa berlari.

meluncur di trek menurun selamanya

sungai mungil di awal jalur

Seperti semula saya katakan, di awal jalur pendakian terdapat sungai mungil yang airnya deras mengalir. Inilah saat yang tepat untuk menikmati sembari membilas pakaian, badan dan alas kaki. Beruntung pula, pagi itu Warung Bu Ipah sudah buka. Karena saat kami tiba kemarin, Warung Bu Ipah masih tutup. Tak ada manusia di area titik nol ini.
Bu Ipah dan penulis

Sekadar info, Bu Ipah ini sudah 14 tahun berjualan di titik nol pendakian Manglayang. Sekali waktu anak beliau menjemput dengan sepeda motor untuk membawa beliau ke rumah ataupun berbelanja dagangan. Berbagai camilan dan minuman hangat dijual dengan harga yang wajar, sama seperti warung pinggir jalan pada umumnya. Sebenarnya ada pula warung di seberang Warung Bu Ipah, namun hanya buka Sabtu-Minggu. Di samping Warung Bu Ipah, ada mushola yang cukup besar, selain sembahyang cukup untuk menaruh carrier, berganti pakaian, bahkan merebahkan diri bersama-sama.
tempat istirahat&sembahyang yang cukup luas

melepas lelah di warung Bu Ipah

way to home

Perjalanan pulang harus diawali dengan berjalan pula, masih dengan waktu tempuh 30 menit untuk bersua dengan tukang ojek yang duduk manis menunggu di depan gapura Ciloa. Untuk perjalanan turun ini, silahkan Anda tawar hingga 15 ribu untuk rute gapura Ciloa-halte Damri. Sebagai penutup, bolehlah menjelajahi Jatinangor, bersantap siang di sana, merasai betul silir damai angin Sumedang sebelum berpulang.



Kamis, 12 Desember 2013

Burangrang Short Hiking, Sempurna untuk Pemula

Rute yang jelas.Tanjakan yang bervariasi.Jarak tempuh yang relatif singkat. Kondisi udara yang bersahabat. Memang benar, Burangrang sangat cocok untuk pendakian pertama, untuk pendakian yang singkat.

Diriwayatkan dari orang lokal bahwa Bandung sebenarnya adalah dasar dari danau yang terbentuk dari letusan Gunung Sunda yang dikelilingi rangkaian gunung dan bukit. Burangrang menjadi tepi mangkuk tertinggi di antara tinggian yang mengelilingi kota sejuta kembang ini, dengan ketinggian 2050 mdpl.   

# Akses

Berlokasi di Cisarua Kab. Bandung, gunung ini dapat ditempuh dengan mudah dari pusat kota Bandung dengan transportasi sejuta umat. Rute ditempuh dengan menumpang supir angkot biru jurusan Cicaheum-Ledeng atau warna putih Kalapa-Ledeng dengan imbalan 3000 rupiah(dari Dago) menuju Terminal Ledeng, kemudian dilanjutkan angkot putih Ledeng-Parongpong cukup dengan 4000 rupiah Anda akan berhenti di terminal angkot Parongpong. Namun saya tak merekomendasikan untuk turun di terminal Parongpong karena dari terminal Parongpong jarak Gerbang Komando masih jauh. Anda butuh mencari kendaraan lagi.

Bila mau, cobalah bernegosiasi harga dengan supir angkot untuk membawa Anda hingga persimpangan beberapa ratus meter setelah Gerbang Komando :kanan menuju registrasi Gunung Burangrang dan kiri menuju Pondok Aa Gym. Sekadar berbagi, saya mendapat harga 8000 tiap orang untuk perjalanan Ledeng-Persimpangan.

Dari persimpangan ini kita mesti berjalan sekitar 10 menit untuk mencapai kantor registrasi pendakian. Jalan yang dilalui naik namun tidak menanjak tajam. Perlu diperhatikan, Gunung Burangrang merupakan area latihan gunung hutan Kopassus. Maka dari itu perizinan pendakian dilakukan pada seorang bapak tinggi-tegap-kekar-besar yang kemudian kami ketahui bernama Pak Tantan. Bolehlah saya bercurah hati, Pak Tantan sang prajurit baret merah ini orangnya “cair”, kami saja dipanggil “bro”.
Pengarahan dari Pak Tantan

#Perkenalan

Sambutan perdana tampak membahagiakan. Jalan yang cukup lebar dengan vegetasi pinus di kanan-kiri jalan. Jalur terlihat jelas sebelum beranjak menuju hutan yang sebenarnya. Terdapat tiga puncak bayangan dan satu puncak sejati di ketinggian 2050 mdpl. Kalau tak cermat memperhatikan, sepanjang perjalanan Anda mungkin tak akan menemukan plang kira-kira 10x30 cm bertuliskan “PUNCAK” dan “SATGANA” yang tertancap pada pohon. 
plang puncak bayangan
Saya sendiri pun hanya menjumpai satu plang dari tiga puncak bayangan, terlepas dari berapa sebenarnya plang yang dipasang. Oleh karena ada banyak puncak bayangan, jalan tidak selamanya menanjak. Akan didapati bonus beberapa kali jalan menurun saat perjalanan. Mari bersorak kegirangan.Oh ya, dari kejauhan juga akan tampak Situ Lembang yang duduk manis di kejauhan. Sebuah danau buatan jaman kumpeni yang kini juga digunakan latihan perang oleh pasukan elit Kopassus.
sambutan pertama
lanskap Situ Lembang
# Kondisi Medan

Rute Burangrang termasuk  bervariasi. Jalan yang lengang, setapak normal, jurang di kiri-kanan, lereng yang benar-benar mencapai lembah di sisi kanan jalan, ataupun jalan dengan vegetasi yang lebat. Bicara soal tanjakan, Burangrang boleh masuk dalam kategori “grade A”. Tanjakan yang mesti dilalui untuk mencapai puncak cukup banyak namun tak berlebihan. Bila masih newbie, ada baiknya membawa tali webbing atau tambang kecil. Terlebih bila Anda seorang perempuan (tidak bermaksud meremehkan). Elevasi tanjakan sekitar 60 derajat berbatu maupun tanah lempung yang licin. Saat saya tak sengaja menendang batu, batu itu menggelinding hingga lima meter lebih. Namun bila sudah berpengalaman, tak membawa tali pun tak apa.
jalan setapak

salah satu tanjakan sedang
Butuh waktu 2-3 jam untuk mencapai puncak tertinggi Burangrang. Saya butuh waktu dua seperempat jam. Itupun sudah termasuk beberapa kali istirahat karena rekan saya baru pertama kalinya mendaki. Mungkin Anda dapat mencapainya kurang dari dua jam bila berjalan cepat konstan dengan sedikit break. Telah dibuktikan, tidak minum sama sekali dari gerbang awal hingga puncak tertinggi 2050 mdpl pun memungkinkan. Puncak Burangrang bukanlah padang yang luas, hanya sekitar 5x5 meter dengan tugu triangulasi setinggi 2,5 meter berwarna merah putih dengan saka merah putih di atasnya. Sayang sekali banyak pendaki yang meninggalkan sampah di sini. Melanggar semboyan pendaki: leave nothing but footprints.
seorang teman berpose pada penanda puncak

"mendaki" tugu triangulasi
# Catatan

Karena sedang musim hujan, medan kembali “perawan” seperti belum terjamah. Oleh karena itu harus berhati-hati. Ketika turun, cobalah untuk membuka kaki agak lebar agar tak mudah terpeleset. Ambillah sisi kiri-kanan jalan setapak bila samping bukan jurang. Hal ini terbukti membantu mengurangi intensitas terpeleset, bahkan menghindari sama sekali.

mendaki itu menyenangkan
Perjalanan turun tak ada hambatan kecuali tetes air hujan yang melicinkan medan. Berhati-hati  dan tidak buru-buru adalah pilihan terbaik. Tercatat, waktu yang kami butuhkan 2 jam kurang 15 menit. Tidak buruk bagi teman saya yang baru pertama kalinya berkenalan dengan medan . One day hiking di Gunung Burangrang menjadi pilihan yang sempurna untuk Anda mencoba-coba. Silakan catat, Anda hanya perlu membawa barang-barang ini:ransel berisi air 1, 5 liter, makanan (roti atau nasi), jas hujan, P3K, tali webbing, trash bag, kemudian sepatu/sandal gunung, jaket, dan tentunya tekad baja jiwa bahagia. Selamat mencoba!



Selasa, 29 Oktober 2013

Mt.Papandayan:Trek Gampang, Jalur Gamang



Akan tetap saya sisihkan sesingkat apa pun waktu untuk menyapa riang dedaunan di sekian ribu di atas permukaan laut sana. Dan kali ini adalah momen untuk salah satu gunung di lingkar Garut “Switzerland van Java” : Papandayan. Satu gunung api berketinggian 2.665 mdpl berjarak 70 km dari kota Bandung dengan panorama yang beraneka. 

Kenapa beraneka, karena Anda akan menemukan banyak jenis kenampakan alam di sini. Mulai dari bukit kapur, letupan-letupan kawah belerang, sungai dengan air terjun mungil, aliran air belerang yang tak boleh Anda minum, tebing curam di samping jalur mendaki Anda, bukit coklat-hijau tua di kejauhan, hingga padang Edelweiss di ketinggian 2.400 mdpl yang akan mendamaikan suasana hati.

jalanan 10 menit pertama

Gunung dengan padang Edelweiss terluas di Indonesia ini memang cocok bagi mereka yang baru mengenal dunia daki-mendaki. Treknya yang relatif mudah dibanding gunung lain dengan lebar jalur yang cukup dan elevasi yang landai. Bahkan hingga ketinggian 2.200 mdpl, masih ada orang yang mampu menempuhnya dengan sepeda motor.

area belerang, memakai masker akan cukup menolong

trek landai
Start dari lapangan parkir Papandayan, Anda hanya perlu waktu dua jam untuk mencapai tanah lapang perkemahan Pondok Saladah. Tercatat pada hari itu, sebanyak 600 orang mendaftar untuk menjejaki gunung ini. Pondok Saladah ini berupa sebidang tanah yang sangat luas, yang sepertinya telah disiapkan Sang Maha Esa untuk para pendaki. Sampai di Pondok Seladah, sebaiknya langsung mendirikan tenda agar dapat beristirahat segera.
Pondok Saladah
Untuk mencapai puncak, terdapat dua jalur yang ditawarkan, yakni Spider dan Death Valley. Jalur Spider akan langsung mengantarkan Anda ke puncak Gunung Papandayan, sedang dengan jalur Death Valley/Lembah Mati, Anda akan diajak mampir ke Tegal Alun terlebih dahulu, sebuah padang Edelweiss yang telah disebutkan di atas.

lanskap Hutan Mati suasana pagi

Banyak pendaki memilih jalur Lembah Mati karena penasaran dengan Padang Edelweiss Tegal Alun. Sekitar satu setengah jam perjalanan dari Pondok Seladah. Di jalur ini, Anda akan disuguhi pemandangan Hutan Mati, rangkaian pepohonan tanpa daun dengan tanah putih yang menyuguhkan kesan mistis ala pegunungan.
Kegamangan akan menerpa ketika Anda melewati Hutan Mati saat hari masih gelap. Hampir semua arah mata angin bisa ditempuh, sementara hanya ada satu yang benar, yakni jalur yang dihiasi ikat kecil tali rafi di dahan pepohonan mati. Saran saya, sertakan orang yang sudah pernah mendaki Papandayan dalam perjalanan, atau tempuhlah jalur ini saat hari telah cerah.

Garlic Bread dan Nasi Obok, hanya di Papandayan

TAKE NOTHING BUT PICTURE
Edelweiss yang indah telah menanti sabar di Tegal Alun. Banyak pendaki yang berfoto ria di sini, memasak, ataupun sekedar beristirahat sejenak.  Setelah saya jelajahi, memang benar bahwa padang ini begitu luas, cocok untuk bersantai menenangkan diri. Beberapa pendaki memutuskan untuk tidak ke puncak. Beberapa karena pemandangan di puncak yang tak terlalu menggoda, karena kabut yang membatasi jarak pandang, ataupun karena petunjuk jalur yang kurang jelas (kegamangan kedua). Saya bersama rombongan termasuk di dalamnya.

Memilih segera menuruni tanjakan Mamang yang lumayan menantang, meniti Hutan Mati, membereskan tenda yang kami tinggal di Pondok Seladah, dan mencuci muka di aliran sungai berair terjun mungil. Anda tak akan menyesal bila “piknik gunung” di Papandayan ini.

sungai dengan air jernih khas pegunungan, air terjun mungil tidak tampak dalam gambar

AKSES dan KALKULASI RUPIAH

Asumsi awal: perjalanan dilakukan berombongan 17 hidung. Untuk perjalanan dengan kisaran orang yang lebih sedikit ataupun banyak, Anda dapat memperkirakannya.

[14.000 tiap hidung] bus kelas pendaki Bandung-Garut (Terminal Cicaheum-Guntur), bila berangkat dari Jakarta (Kampung Rambutan), kena libas 36.000.

[100.000 untuk 17 hidung] sewa angkot Terminal Guntur-Gerbang Cisurupan, jika per orang, kena tebas 15.000 tiap hidung.

 [350.000 untuk 17 hidung] pick-up Gerbang Cisurupan-Parkir Papandayan, jika per orang, kena gilas 20.000 orang tiap hidung.

[2.000+iuran sukarela] tiket masuk pendakian.

Bagaimana saudara-saudara, ekonomis bukan?










Selasa, 30 April 2013

Gede, Indonesian Rocky Mountain


Merasa perlu bagi kami melepasliarkan segala pening dan penat yang menghantui, dan dengan segala pertimbangan kami bertekad melepasbebaskannya di Puncak Gede, berketinggian 2.958 mdpl bersebelahan dengan awan Kumulus, terpayungi Sirostratus–yang kadangkala membuat rembulan terdispersi sempurna.

Empat belas orang pada pagi benar berangkat menuju pintu gerbang basecamp Mandalawangi, sebuah tempat di Cibodas, empat jam perjalanan dari Kampus Insan Cendekia.

#1 Briefing
Dalam perjalanan ini kami bergabung dengan komunitas REPALA, sebuah komunitas pecinta alam yang telah berumur 41 tahun, yang beranggotakan salah seorang guru kami. Sekitar pukul 10 pagi kami melakukan pemanasan ringan dan menerima pengarahan umum dari bapak-bapak senior.
Basecamp Mandalawangi ini terasa begitu riuh dan bersahabat. Banyak dijumpai warung makan, penjaja souvenir–gantungan kunci, kaktus, kaos–toilet umum, dan kantor TN Gede Pangrango. Mobil-mobil terparkir rapi bersebelahan dengan kolam luas yang di tengahnya terdapat air mancur. Benar-benar terurus. Sekitar pukul 10 lewat 15 menit kami telah siap berjalan menaklukkan 4 pos menuju puncak tertinggi gunung yang katanya menjanjikan panorama indah ini.


#2 Cibereum
Butuh 50 menit berjalan dengan kecepatan sedang untuk mencapai pos satu ini. Jalanan selebar 4 kali lebar orang dewasa dipenuhi bebatuan ukuran sedang. Cukup ramah untuk pendaki amatiran. Ketika sampai, banyak pendaki sedang beristirahat untuk sekadar meneguk air. Sampai di sini medan masih terhitung ringan.
beristirahat di Cibereum

#3 Cipanas
Menuju pos dua, jalan masih didominasi bebatuan yang tersusun rapi namun sedikit ada bebatuan runcing. Setelah berjalan tiga jam, akhirnya kami mendapati tanah yang tak terlalu lapang bertuliskan air panas. Terdengar dari areal ini suara air terjun yang ketika kami cek, berjarak sekitar 15 meter dari pos pemberhentian ini. Di sini kami mengisi ulang energi yang mulai berkurang signifikan karena telah berjalan selama kurang lebih 4 jam. Memakan beberapa snack ringan dan memasak mi instan menjadi pilihan.
sampai di Cipanas

disambangi bule korea
bebanku tak seberat cintamu kepadaku
#4 Kandang Batu
Tidak seburuk yang dibayangkan, belum genap 15 menit pun kami telah mencapai pos Kandang Batu. Meski masih jauh dari puncak, namun telah banyak pendaki yang mendirikan tenda di pos ini. Di fase kali ini, perjalanan mulai dihambat dengan hujan sehingga kami harus mengurangi kecepatan berjalan menuju pos berikutnya, Kandang Badak yang menurut pendaki lain yang kami papasi, lebih ramai dari Kandang Batu ini.
orang-orang mengemasi perbekalan

#5 Kandang Badak
Saya pikir ini lebih mirip perkampungan di tengah hutan. Begitu banyak tenda didirikan, hingga beberapa harus mencari tempat yang agak jauh dari tanah lapang utama Kandang Badak, termasuk kami yang berempat belas. Kami terus saja menanjak ke atas hingga persimpangan menuju Puncak Gede dan Puncak Pangrango. Kami bersembahyang di sana dan harus bertahan dengan kondisi dingin hingga esok dini hari saat melanjutkan perjalanan menuju puncak. Di sini kami beristirahat dalam tenda, menanak nasi dengan peralatan seadanya, menyeduh sereal sebagai penghangat, dan menyantap perbekalan yang masih tersisa.
hiruk pikuk Kandang Badak

sembahyang di tempat seadanya, alas seadanya

#6 Puncak Gede, Sebuah Klimaks
Empat pemberhentian telah tertaklukkan, kini saatnya mencapai inti dari sebuah pendakian. Di perjalanan kami terpisah menjadi tiga kelompok, sehingga kami mencapai puncak dengan tenggat waktu yang berbeda-beda apalagi dengan kondisi gerimis yang membumbui perjalanan di menit-menit awal. Jalanan? masih saja dipenuhi bebatuan yang bervariasi ukuran dan bentuknya. Memang tak berlebihan bila Gede kami juluki Indonesian Rocky Mountain

sunrise

Janji Gunung Gede tertepati, bahwa panorama alamnya sungguh mempesonakan. Puncak Gede bukan berbentuk tanah lapang, namun sebuah jalan panjang berpasir beratus meter panjangnya. Di sisi kiri banyak mengepul asap kawah berwarna putih susu, di sisi kanan terhampar padang Edelweiss yang sayang sekali belum kuncup apalagi mekar, arah barat jauh yang terpasak dengan kokoh membundar Puncak Pangrango, harmoni “perkampungan” Suryakencana yang terlihat dari kejauhan dan tentu saja pemandangan emas mentari saat terbit yang memancarkan warna jingga terang.

Puncak Gede yang memanjang


seorang teman sedang mencari "tempat aman" membuang limbah

komplek Suryakencana

Kami bercanda sambil kedinginan. Memakan beberapa bungkus makanan yang tersisa dengan badan begetaran. Seorang teman yang cukup besar badannya berusaha  melepaskan beban usus besarnya di ketinggian–merupakan sebuah pencapaian prestisius. Terus mencuci mata dengan panorama yang tersaji meski angin bertiup bersama kabut yang sesekali naik. Menyantap coklat batang berbutir kacang mede dan dark chocolate dengan aroma kulit jeruk: Monggo Chocolate asli Yogyakarta. Dan tentu saja agenda wajib, berfoto dengan berbagai lanskap dan gestur.
sebagai penanda

#7 Santai turun puncak
Tidak seperti perjalanan mendaki yang terkesan penuh peluh perjuangan, prosesi menuruni gunung ini kami lakoni dengan berjalan cepat namun perasaan begitu santai. Rasa lelah seolah-olah telah menemui penawarnya, yakni panorama yang sesaat memanjakan kami di puncak tadi. Total perjalanan menuju basecamp sekitar 3,5 jam jika waktu bersenang-senang tidak diikutsertakan.
air terjun mungil

air terjun Cibereum

singgah sejenak di Kandang Badak

suasana turun

Sengaja kami melunasi piutang menyambangi beberapa spot menarik yang kami lewatkan saat perjalanan mendaki. Ada tiga air terjun dan satu sumber air panas yang kami nikmati pada perjalanan pulang ini sambil menguras isi carrier dan ransel yang masih berisi makanan. Sempat pula kami berjumpa dengan environtmentalis (pecinta lingkungan)  di spot Cipanas yang mengajak kami membersihkan lingkungan hutan dari sampah yang berserakan.
bersama Pak Budi, pendamping dari REPALA

mengumpulkan sampah, tanda anak gunung sejati

Dan dengan ini segala pening dan penat telah secara sempurna terlepasliarkan.