Pages

Rabu, 17 Oktober 2012

Foranzaku Mengangkasa


“SILLNOVA, INI DARI FORANZA...”(tryroedy dkk.)

Tiga.Dua.Satu.Yak, balon udara Foranza Sillnova perlahan-lahan terbang meninggi meninggalkan tanah pijakan pada sebuah pagi cerah di kampus tercinta, Insan Cendekia.Kombinasi warna hijau, putih, dan coklat bertuliskan FOSIL dengan ukuran sekitar 5x6 meter dengan santainya membebeaskan dirinya dengan udara panas ringan yang terperangkap di dalamnya.Sebuah hadiah ulang tahun istimewa  yang belum pernah terbayang di benak pikiran kawan-kawan Foranza sebelumnya.Semua mata takjub memandang, tak mampu berkelak hati bahwa memang hadiah ultah angkatan buatan tangan anak Foranza dan untuk Foranza Sillnova ini benar-benar mendamaikan hati.Tidak hanya kami Foranza Sillnova, adik-adik kami dari Magnivic dan Astonic, beberapa tamu yang berkunjung ke Insan  Cendekia serta guru turut menyaksikan kemegahan penyerahan mimpi kami pada langit Minggu pagi itu.



Pada Rabu, 10 Oktober 2012 angkatan 16 Insan Cendekia yakni Forza Esperanza Sillnova telah tepat berusia 2 tahun.Tidak terasasebenarnya sih cukup terasakebersamaan kami telah berlangsung 2 tahun lamanya.Tidak ingin melewati momen spesial begitu saja, kami pun membuat serangkaian perayaan.Mulai dari menghias asrama, melaksanakan Hari Bhakti Foranza, mendengarkan nasihat bijak dari guru kami, hingga makan pagi bersama tiga angkatan:Foranza Sillnova, Magnivic serta Astonic.Pada awal minggu, kami bersama-sama menghias asrama tercinta, Gedung Fs dan H.Kami ingin anak-anak Foranza benar-benar merasakan meriahnya hingar-bingar ulang tahun, layaknya anak kecil yang begitu riang karena ulang tahunnya dirayakan. Kemudian pada  hari-H, yakni 10-10-2012 kami jadikan ia sebagai Hari Bhakti Foranza.Kami menggantikan sebagian besar tugas OS-Cendekia pada hari itu, memberi beberapa inovasi pada beberapa bagianhingga terlihat benar-benar berbeda, serta sempat berbagi sebungkus Siomay dengan bapak-bapak CS dan Landscape yang sedang bekerja.Dua hari berlalu, acara berikutnya adalah Mabit Foranza Sillnova.Padanya, kami mendengarkan nasihat dari Pak Yus, nonbar di samping masjid, dan Sembahyang Malam Bersama.Hingga sampailah kami pada puncak perayaan ultah, yakni Makan Pagi Bersama tiga angkatan dan menerbangkan balon.Bukan sekadar balon yang indah dipandang, namun memberi makna mendalam, bagi kami.

Penerbangan balon ini berawal dari pendapat salah seorang teman saya, yakni Rizki NF.Bagaimana jika Foranza menerbangkan balon udara yang berhiaskan ucapan ulang tahun untuk Foranza Sillnova?Tentu saja, teman-teman begitu antusias.Dalam bayangannya, kami akan memesan balon helium pada abang-abang tukang balon.Berhari-hari lamanya tidak menemukan pihak yang dimaksud, teman saya Retas Aqabah lantas menawarkan sebuah penyelesaian yang cukup menggebrak dan berisiko:membuat balon udara dengan tangan kami sendiri.Memang ia belum pernah membuat balon udara itu sebelumnya.Hanya, ia sering sekali melihat balon tersebut di kota asalnya Wonosobo.Dan beruntungnya, ada teman sepermainannya di Wonosobo yang sudah ahli dalam membuat balon udara buatan tangan tersebut.

Balon udara yang dibuat oleh Retas dan beberapa teman saya ini mengusung prinsip konveksi  dan  pembakaran tidak sempurna.Telah saya sindir sedikit di awal,  balon yang terbuat dari 200 lembar lebih kertas kreps tersebut dapat mengangkasa karena udara panas yang terperangkap di dalamnya.Jelasnya, sebelum diterbangkan, balon dipanasi terlebih dahulu dengan meletakkan balon tersebut di atas sebuah ban mobil yang dibakar.Mengapa ban mobil?Karena kita membutuhkan banyak asap hasil pembakaran tidak sempurna.Semakin banyak asap, akan semakin baik karena gas yang terperangkap di dalamnya akan semakin ringan.Sesuai prinsip konveksi, udara yang panas memiliki massa udara yang relatif ringan dan akan bergerak ke atas.Dengan kata lain , Retas dan teman-teman kreator balon membuat sebuah kantong udara panas dan ringan yang berwujud sebuah balon berwarna putih, hijau dan coklat.

Pembuatan balon udara tersebut diawali dengan menyatukan kertas-kertas kreps dengan lem putih, dan diantara sambungan kertas-kertas tersebut dikuatkan dengan benang untuk menahan tekanan udara dalam balon.Kerangka tersebut selajutnya dipasangi kerangka bambu melingkar dengan diameter 1,5 meter.Pernah melihat jaring ubur-ubur milik Spongebob dan Patrick?Kira-kira seperti itulah fungsi kerangka bambu mirip hoolahoop tersebut, yakni untuk mempertahankan bentuk bulat balon udara.Sedang pada bagian atas balon diberi pemberat dari pasir untuk menjaga keseimbangan balon udara ketika tertiup angin di udara lepas.Bermalam-malam lamanya Retas dan beberapa kawan menyelesaikan balon kami.Saya tak bisa membayangkan betapa remuk redam sistem tubuh kawan-kawan saya ini yang berhari-hari dipaksa melanggar siklus tubuh normal seperti hari-hari yang lain.Ibarat kemarau setahun dibalas hujan sehari, balon pun dapat diterbangkan meski terdapat sedikit kendala yang cukup menegejutkan.

Pagi hari belum genap setengah tujuh, Foranza beserta kawan-kawan dari Astonic dan Magnivic beramai-ramai menuju tanah lapang samping masjid untuk menyaksikan penerbangan balon pertama Foranza Sillnova tersebut.Kami semua telah berdiri melingkar, menanti  prosesi penerbangan.Namun apa boleh dikata, yang tak diharapkan kedatangannya pun berulah.Ketika balon sedang dipanaskan, tiba-tiba balon tersebut goyah.Karena panik kalau-kalau balon tersebut tersambar api, salah seorang teman pun dengan refleknya menebas salah satu sisi balon kami.Lubang pada balon pun tak dapat dihindari.Akhirnya, dengan berat hati kami pun segera memperbaiki.



Beruntung, sekitar pukul setengah delapan sesaat setelah acara usai, kami bertolak kembali menuju tanah lapang samping Masjid Ulul Albab, berharap kali ini balon kami benar-benar dapat mengudara.Tidak sebanyak sebelum acara tadi, kali ini hanya ada beberapa adik kami saja yang hadir meski telah diumumkan di setiap gedung dan area terbuka di kampus kami.Namun kami cukup bahagia dengan kehadiran seorang guru, Bapak Japar, guru Kimia kami di tahun pertama yang hadir dan melihat dari bagian belakang .Tentu saja penyempurnaan dilakukan dalam proses penerbangan.Kali ini kami menggunakan dua bilah bambu panjang untuk menjaga keseimbangan balon.Setelah pemanasan dirasa cukup, kami pun dengan yakin menerbangkan balon.Tri Roedy sebagai salah satu orang yang berkontribusi besar dalam pembuatan balon mengomandoi pelepasan balon tersebut.Sedang Marsekal Fikri Muhammad sebagai ketua angkatan kami tercinta  memegang sebuah band bertulis “HBD FORANZA”yang ditulis secara vertikal dan digantung di salah satu sisi bagian bawah balon.Balon Foranzaku mengangkasa,  menuju batas atas troposfer, dan terbang jua bersamanya mimpi, harapan, dan asa cita Forza Esperanza Sillnova—generasi impian dengan kebersamaan yang tanpa pernah pudar.



Selasa, 03 Juli 2012

Amazing Trip at Tanggamus

“Nyak demon haguk Tanggamus!”

Di liburan pergantian tahun pelajaran kali ini, saya memutuskan untuk bertualang ke  Pulau Andalasatau lebih kita kenal dengan Sumatera, tepatnya di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Sebuah kabupaten dengan morfologi yang cukup menawan:gugusan pantai yang menghadap Samudera Hindia dengan gunung tinggi menjulang tepat di sampingnya. Di bawahnya terdapat perkampungan dimana teman saya, M.Yusya Asadillah tinggal bersama sanak keluarganya. Bersama Omi, Faizin, Nda, dan Tasya, saya memberanikan diri berpetualang ke pulau yang belum pernah kami pijak sebelumnya. Di perjalanan lintas pulau ini, saya berniat menghapus semua beban dan kejenuhan yang selama ini bersarang dalam pikiran saya. Menghapus kenangan yang membuat hidup ini tidak indah untuk dijalani.Juga sebuah lelucon kecil:membuktikan bahwa Tanggamus yang sering disebut-sebut itu benar-benar ada dan bukan hanya bualan teman saya yang baik itu.Ketika perjalanan dimulai, sudah tertancap kuat sebuah harapan dalam benak saya, bahwa nantinya saya akan menemukan sensasi-sensasi tiada terbayangkan di sana.

Prolog:Yang beroda dan yang tak beroda

Sesuai perencanaan Yusya sedari awal, kami berangkat dari Kampus Insan Cendekia pada malam   hari, tepat pukul setengah sembilan malam.Dimulai dengan berjalan kaki menyusuri kampung yang cukup sunyi di depan kampus, untuk kemudian menunggu angkutan umum di pinggir jalan raya. Rute keberangkatan kali ini terbilang cukup sederhana:Kampus Insan Cendekia-Pasar Serpong-Kebon Nanas-Pelabuhan Merak-Bakauheni-Tanggamus.Di Pasar Serpong kami berhenti sejenak karena ada sedikit keperluan.Sedang di Kebon Nanas kami transit sebentar di rumah saudara adik kelas kami, Susanto, yang saat itu turut serta karena memang Tanggamuslah kampung halaman Susanto–kembaran Susanti.Di Kebon Nanas pula, kami galau(baca:sabar) menanti Bus Arimbi yang mengantar kami ke Pelabuhan Merak, penghujung barat pulau yang kami huni selama ini.
Perjalanan tiga jam yang singkat namun cukup melelahkan antara Kebon Nanas hingga Merak dari pukul 00.30-03.30 dini hari semakin membuat kami  bersemangat saat itu, karena sebentar lagi kami akan mengarungi lautan lepas! Setelah mampir di Alfamart sejenak sembari melepas lelah, kami segera membeli tiket seharga Rp11.500, 00.Cukup murah menurut saya.Tidak sebanding dengan pemandangan yang akan disuguhkan olehnya di perairan Selat Sunda kelak.Ketika memasuki kapal, beberapa teman meminta mengambil kelas AC dengan menambah biaya Rp6.500, 00.Permintaan yang bisa dimengerti ketika kemudian saya mengetahui bahwa bila berada di luar, kebisingan mesin kapal, hawa panas yang dihasilkan mesin kapal, kokokan ayam dan embikan kambing (berikut baunya) akan benar-benar mengganggu perjalanan kami nantinya.Meski pada akhirnya di kelas AC yang kami pilih, para ABK memutar film jadul yang menurut pemikiran jiwa muda saya merupakan film yang sangat tidak menarik untuk ditonton.Ya, sangat tidak menarik.
Pagi menjelang, kami berjamaah salat shubuh di musholla ala kadarnya di bagian belakang kapal.Sejurus kemudian, saya tidak kembali ke tempat duduk.Ya, menjamah kapal ini merupakan keputusan yang tepat untuk ukuran orang yang belum sekalipun menyeberangi pulau dengan kapal.Air laut yang hijau–pasti banyak ganggangnya!,angin yang lembut mengalir, dan pemandangan khas Nusantara di lautan lepas:gugusan pulau yang hijau memesona membuat jiwa kami terbebas, sebebas-bebasnya.Inilah yang saya sebut sensasi pertama petualangan kami ke Tanggamus.
bagian depan kapal, di Selat Sunda

 Sekitar pukul tujuh pagi kami tiba di Pelabuhan Bakauheni.Sebelum kami melangkah keluar kapal pun, kami sudah disambut –saya menyebutnya– “mas-mas travel”.Dia menawarkan harga Rp50.000 tiap orang untuk sebuah rute perjalanan Bakauheni-Tanggamus.Menurut Yusya Sang Tuan Rumah, harga tersebut cukup rasional, maka dari itu kami langsung mengiyakan.Tancap gaasss!!!


Empat jam yang cukup melelahkan berlalu, akhirnya kami sampai di kediaman keluarga Yusya.Hijau, asri, nyaman, dan begitu homey.Kami disambut dengan hangat oleh anggota keluarga Yusya.Ibunda, adik, kakak, dan kakek-neneknya.Saat itu ayahandanya sedang tidak ada di rumah karena sedang bekerja.Di pojok depan rumahnya, ada gudang kecil tempat penyimpanan ikan asin.Kemudian di sisi sebelah kiri, terpasang spanduk kecil bertuliskan “Terapi Ion Elektrik”.Keluarga Yusya membuka terapi pengobatan sebagai penghasilan tambahan.

Omi kegirangan dengan ikan pertama (dan terakhir)nya
Sewajarnya orang setelah melakukan perjalanan jauh, kami pun beristirahat sejenak di ruang depan.Karena kedatangan kami memang berdekatan dengan jam makan siang, maka sembari melepas lelah kami menyantap makan siang ditemani sambal dan ikan asin yang nikmat.Kami juga sempat mencicipi kopi yang disangrai sendiri oleh Ibunda Yusya(sensasi kopi Lampung pertama ini membuat saya ketagihan untuk menikmatinya).Menjelang ashar, Yusya mengajak kami memancing di empang milik saudara, yang tidak jauh dari rumahnya.Dengan 2 kail milik saudaranya itu, kami berhasil mendapat 4 ekor ikan kecil.Hasil yang tidak buruk untuk seorang amatiran.
Sore menjelang, Yusya membawa kami berjalan-jalan ke kaki Gunung Tanggamus.Sebagaimana diceritakan di awal, gunung setinggi 2.100 meter ini berdiri kokoh berdampingan dengan laut lepas Samudera Hindia yang terlihat cukup tenang saat itu.Dari halaman depan rumah Yusya, gunung ini terlihat begitu tinggi dengan beberapa bagiannya tertutup awan Cumulus.Air dari gunung inilah yang mencukupi kebutuhan air bersih perkampungan di bawahnya.Dingin, segar, menyejukkan, namun tak sampai membuat ngilu tulang saat tersiram di badan.
Dengan dua sepeda motor berwarna merah dan hitam, kami dengan santainya pergi
menuju kaki gunung di senja yang berawan saat itu.Dua puluh menit perjalanan berlalu, sepeda motor yang meski masing-masing disesaki 3 orang pun tidak mengalami tantangan yang berarti, melaju perlahan melintasi jalanan naik turun dan berliku.Namun sesaat kemudian, jalan mulus seketika berubah menjadi  jalanan aspal rusak–berbatu–berdebu.Motor mulai kepayahan mendaki, hingga klimaksnya, motor yang ditunggangi Faizin “pingsan tak sadarkan diri” ketika menaiki jalan setapak.Terpaksa, kami membantu mendorongnya beberapa meter.Kami bertemu dengan bapak-bapak penggarap lahan di sana.Berbagai sayuran yang tumbuh subur dan pohon kakao yang buahnya mulai memerah.Dan ketika matahari mulai terbenam, kami memutuskan untuk kembali ke rumah.

pohon kako(coklat) yang mulai memerah

Hari ke-2:Asin dan Tawar

Tanggamus Trip di Senin yang cerah ini berdestinasikan segala yang berhubungan dengan air.Boleh dibilang, pada hari ini perjalanan yang sebenarnya dimulai.Pukul 08.40 pagi mobil Xenia biru milik tante Yusya melesat cepat menuju arah selatan.Yang saya herankan, hanya dibutuhkan 50 menit perjalan untuk bisa merasakan sejuk segarnya deretan pantai di tepi perairan Samudera Hindia ini.
Di kawasan ini, terdapat sejumlah pantai yang menawarkan pemandangan yang beragam, yang sampai detik ini saya tidak tahu pasti berapakah jumlah pantai tersebut.Namun sejauh yang saya tahu, barisan pantai tersebut tergabung dalam gugusan Teluk Semangka.Pantai pertama yang kami sambangi adalah Pantai Dramaga.Pantai ini adalah pantai yang unik, menurut saya.Berwujud seperti dermaga dengan jalan beton yang dibangun cukup panjang menghadap ke laut lepas.Ketika kami berjalan ke ujung jalan  dan menundukkan kepala jauh ke bawah, kami menjumpai ikan-ikan kecil berwarna-warni berenang kesana-kemari, soliter maupun berkoloni(membentuk gerombolan).Di pantai ini pula kami jumpai ikan Ciracas yang kami lihat secara langsung meloncat sejauh 2 meter.Atraksi tak terduga di pagi yang terik, yang cukup membuat kami berdecak kagum.
pemandangan bawah air Pantai Dramaga

loncat!!!

 Selanjutnya, Sang Driver yang juga kerabat keluarga Yusya membawa kami kepada pantai yang berhiaskan batu-batu kecil, yang kali ini saya tidak tahu namanya.Ombak pantai ini tidak terlalu ganas, setidaknya aman untuk tempat bermain air anak-anak kecil.Di tempat ini , saya sempat mengumpulkan batu-batu “lucu” dan aneh yang belum pernah saya jumpai di tempat lain. Tidak peduli orang bilang saya seperti anak kecil.
Jika di dua pantai sebelumnya kami hanya bermain air–sekadar menyejukkan mata dan pikiran, maka di pantai ketiga ini kami benar-benar menjelajahinya”.Ya, berbasah-basahan sepuasnya.Inilah view pantai yang saya cari:pantai bergradasi indah, kombinasi warna bening cerah air, selanjutnya hijau muda menyejukkan, dan disambung dengan biru tua yang menyegarkan mata.Tidak hanya itu, gugusan batu koral berwarna hitam gelap terlihat dari kejauhan yang memecah ombak makin memanjakan mata kami.Di pinggir pantai, saya menyaksikan hamparan ganggang yang sengaja dijemur oleh penduduk setempat.Benar saja, setelah saya memberanikan diri berjalan sedikit ke tengah menuju gugusan koral itu, saya menemukan ganggang yang tumbuh subur melekat di bebatuan koral.Benar-benar mengagumkan.
pantai bergradasi dengan ombak yang tenang

Hari beranjak siang, kami memutuskan untuk makan siang di pinggir pantai, tepatnya di sekitar pepohonan sekitar pantai.Menggelar tikar, menyantap perbekalan yang telah disiapkan oleh Ibunda Yusya.Hmm, suasana makan siang yang sangat jarang saya dapatkan. Teduh. Berangin tenang.
Setelah pantai ini, kami juga menyempatkan mampir barang sejenak di pantai-pantai yang lain.Sekedar menikmati panoramanya yang menenangkan pikiran, membiarkan semilir angin pesisir menerpa wajah takjub kami, ataupun mengumpulkan batu-batu kecil di pinggiran pantai–masih saja.
Masih soal air.Tujuan kami selanjutnya adalah Air Terjun Way Lalaan.Sebenarnya, bapak pengemudi yang dengn senang hati menemani kami berpetualang sedikit mempersoalkan rencana kami yang bersikeras mengunjungi yang memang sudah tersohor itu.Bukan apa-apa, beliau hanya mengkhawatirkan keselamatan kami.Beliau bercerita bahwa air terjun tersebut telah banyak menelan korban jiwa.Konon katanya, di salah satu titik kawasan air terjun tersebut terdapat turbulensi/pusaran air yang bisa menyerap sesuatu yang berada di sekitarnya.Perdebatan yang cukup panjang terjadi sebelum akhirnya kami dibolehkan, dengan catatan tidak sampai “berenang–bermandi ria” di sana.Kami pun sepakat.Sesampainya di area air terjun, kami hanya cuci muka dan membasahi kaki tangan dengan air segar yang “terbang” dari atas itu.Menurut sumber yang terpercaya, “way” dalam bahasa Lampung artinya air, sedang “lalaan” artinya pedas.Namun setelah saya sambangi langsung, air terjun ini tidak ada pedas-pedasnya.Mungkin saja, rasa pedas itu hanya ada di spot tertentu.Atau mungkin, rasa pedas itu telah sirna ditelan usia.Who knows?.Namun selain tempatnya yang indah, ada satu hal lagi yang menarik perhatian saya, yakni struktur batuan yang membuat air terjun ini kian cantik.Struktur batuan yang berbentuk seperti tiang-tiang yang bertumpuk-tumpuk serta lembaran-lembaran yang bersusun.
Air Terjun Way Lalaan


Hari 3:Saya pikir ini padang pasir yang basah kuyup…

Tepat pukul delapan lebih lima puluh enam menit, mobil melaju kencang menuju Obyek Wisata Batutegi.Obyek wisata yang terkenal dengan bendungannya,yang merupakan salah satu bendungan tertinggi di Asia Tenggara.Berupa danau buatan mahaluas yang memotong “konstelasi” perbukitan bagian timur Kabupaten Tanggamus.Menurut cerita, proses pembuatan danau ini dalam perjalanannya memakan banyak korban jiwa karena longsor, yang diakibatkan penggalian tanah yang memotong rangkaian perbukitan tersebut.Terdapat 3 alternatif tempat yang ditawarkan kawasan obyek wisata ini:bendungan, dermaga danau, dan PLTA.Dan tentu saja, kami tak mau melewatkan satu pun dari ketiganya.
Bendungan Batutegi menjadi pilihan pertama kami untuk mengawali petualangan hari ketiga sekaligus terakhir ini.Dilihat dari kejauhan, bendungan ini tampak begitu besar dan berdiri kokoh diantara perbukitan yang indah memesona.Namun sayang sekali, saya hanya bisa bercerita sebatas ini.Petugas bendungan yang  terduduk di pos depan melarang kami menjamah lebih jauh, dengan alasan sedang ada agenda penting yang dikhawatirkan akan terganggu bila ada pelancong yang masuk.Kami hanya bisa berfoto sebentar di area luar pagar.Tidak mengapa, masih ada dua tempat lagi.
Beberapa menit kemudian kami sampai di dermaga danau buatan Batutegi.Fantastis dan menakjubkan!Itulah kesan pertama yang saya tangkap ketika mulai memasuki areal dermaga ini.Awalnya saya beranggapan bahwa yang ada di depan mata saya adalah sebuah danau buatan yang mengering sehingga dasarnya yang berwarna coklat gelap terlihat jelas, seperti padang pasir yang basah kuyup.Namun ketika saya menuruni 120 anak tangga menuju pinggiran danau, saya sadar bahwa anggapan saya salah.Kenyataan yang sesungguhnya terjadi, wilayah perairan yang sengaja dibuat ini diselimuti oleh ganggang/tanaman air berwarna hijau tua-coklat kehitaman.Ya, sejak 3 tahun yang lalu, terjadi deutrofikasi(booming alga) di danau buatan ini.Hal ini disebabkan oleh terlalu melimpahya pasokan fosfor yang diangkut aliran air sungai yang menuju danau ini.Pasokan fosfor yang berlebih ini membuat laju pertumbuhan ganggang meroket tak terkendali hingga detik ini.Namun terlepas dari itu semua, tempat ini tetap saja mengagumkan.
(terlihat seperti) danau kering

Ketika melihat wisatawan lain menaiki perahu motor untuk berkeliling waduk, kami tentu saja tak mau kalah.Seorang ibu mematok harga Rp10.000, 00 untuk satu orang.Dan kami tak serta merta mengiyakan. Karena dengan kata lain, kami harus membayar Rp70.000, 00 untuk sekali berkeliling.Selanjutnya kami mencoba menawar Rp50.000, 00 untuk 7 orang penumpang.Bapak “nahkoda” perahu mengiyakan, kami pun berlayar.(Belakangan kami tahu bahwa kami sedang beruntung.Karena biasanya, 1 orang harus membayar Rp10.000, 00 jika ingin menaiki perahu, tanpa toleransi).
Dalam imajinasi saya, waduk Batutegi ini lebih terlihat seperti gugusan pulau di lautan lepas yang saya saksikan 2 hari yang lalu.Gundukan-gundukan tanah berwarna hijau nyaman dipandang, yang berkas bayangannya terpantul sempurna di perairan danau yang tenang.Kemudian ketika perahu mendekat ke bukit-bukit mungil itu, saya melihat bekas pohon-pohon yang ditebang dan sengaja dibakar.

cermin datar raksasa


Pelayaran usai, sesaat kemudian kami disuguhi fenomena yang sedikit asing di mata kami:sekelompok bapak-bapak perkasa yang berkubang di samping dermaga sedang memasukkan berpuluh kilo ganggang ke dalam kotak biruvyang berukuran kira-kira 2x2 meter dengan jaring di bawahnya.Setelah cukup penuh, kotak berjaring itu ditarik oleh katrol dengan lintasan bidang miring sejauh 120 anak tangga untuk diangkut ke daratan.Saya pikir, tumbuhan air itu akan diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Namun menurut pengakuan salah seorang bapak yang asyik berkubang tadi,  onggokan itu hanya akan dipindahtempatkan alias dibuang. Coba kita renungkan, booming alga tersebut memang mengganggu keseimbangan ekologi perairan, namun setidaknya muncul satu lagi lapangan pekerjaan baru di muka bumi ini.Yes, everything is relative, just like alga in Tanggamus.
melihat bapak-bapak berkubang:)


Satu setengah jam kami menghabiskan waktu di sini, kami segera bertolak ke PLTA Batutegi, untuk melihat bagaimana kekuatan air yang mahadahsyat dapat diubah oleh otak cerdas manusia menjadi energi listrik yang memiliki kebermanfaatan nyata.Namun apa boleh buat, sekawanan petugas keamanan yang bersiaga di depan tidak mempersilakan kami masuk dengan leluasa.Mereka beralasan bahwa daerah ini “high voltage”(tegangan tinggi), berbahaya.Andaisaja kami sempat membuat surat keterangan palsu yang mengatasnamakan instansi resmi yang kami ada-adakan, maka petugas pun akan mempersilakan kami masuk, dengan menyandera surat palsu itu.Sayangnya, dari 8 orang yang berada di dalam mobil tak ada satu pun yang berpikiran sejauh itu, sebelum kami meminta izin masuk.
Matahari berada tepat di atas kepala kami, itu tandanya jam makan siang datang.Dalam perjalanan pulang, mobil yang mengantar kami berkeliling merapat sebentar ke pinggir jalan raya yang lengang untuk menggelar tikar dan makan siang di sana.Masih sama seperti kemarin, namun kali ini wujud kasih sayang seorang ibunda terungkap dalam sambal teri spesial yang kami santap sampai habis.Yummy...

Epilog:Berharap semua kan terulang

Sensasi tak terduga Obyek Wisata Batutegi tadi menutup lembaran kisah dongeng kami di Tanggamus.26 Juni pukul 5 sore, kami berangkat menuju Pelabuhan Bakauheni dengan travel car setelah berpamitan dengan seluruh sanak famili yang kebetulan sedang berada di rumah Yusya saat itu.Ibunda Yusya membawakan masing-masing 2 bungkus besar kopi khas Lampung untuk dinikmati di rumah.Dan hati kami pun bersorak.Di tengah perjalanan, kami sempatkan pula membeli oleh-oleh untuk keluarga kami.Empat jam perjalanan dengan laju mobil yang cukup cepat, dua jam lamanya mengarungi Selat Sunda dengan KMP Mufidah membuat energi kami terkuras.Pukul 1 pagi, kami telah menginjakkan kaki di Pulau Jawa.
Masih terlalu pagi untuk kembali ke kampung halaman, akhirnya kami pun memberanikan diri untuk menelepon Ibunda Diva Pasha, meminta tolong untuk dijemput dan singgah sejenak di kediaman beliau.Rumah Diva Pasha berada di Cilegon. Butuh waktu satu jam untuk sampai ke rumahnya yang berada di Komplek PCI, dekat sekolahnya dahulu, SMPIT Raudhatul Jannah.Baru sekitar pukul sebelas siang, kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing, ke lima kota yang berbeda.Pulang dengan memori yang tak ternilai, tak terlupakan, tak tergantikan.

Perjalanan mungkin saja membuatmu lelah.
Perjalanan mungkin saja memaksamu mengucurkan rupiah.
Namun perjalanan akan membuatmu terbebas.
Perjalanan akan membuatmu dewasa.